Melamar Imajinasi Dalam Pembelajaran Menulis
Tujuan dari pembelajaran bahasa sebenarnya siswa mempunyai empat
keterampilan berbahasa yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Keempat
keterampilan berbahasa itu harus dikuasai dengan baik agar siswa mampu
berbahasa dengan baik. Keempat keterampilan berbahasa itu saling berkaitan satu
sama lain dan tidak dapat dipisahkan.
Keempat keterampilan berbahasa itu tentu memiliki tingkat kesulitan
yang berbeda-beda. Tergantung pada kemampuan individu untuk memahaminya, namun
secara umum keterampilan yang paling sulit adalah keterampilan menulis. Menulis
adalah menuangkan gagasasan atau ide ke dalam tulisan. Sebelum seseorang
menulis maka keterampilan membaca dan menyimak harus dikuasai dulu. Seorang
yang akan menulis harus kaya akan informasi agar tulisan tersebut dapat ditulis
dengan baik. Seorang penulis yang baik adalah pembaca dan penyimak yang baik.
Begitu pentingnya membaca bagi penulis ibarat dua sisi uang logam
yang tidak dapat dipisahkan. Jika kita baca dari sumber mana pun yang berisi
tips-tips menulis pasti di dalamnya ada membaca. Seorang penulis yang baik
tentu tidak hanya menggali informasi dari bahan bacaan saja tetapi dari
informasi yang ia dengar dan lihat. Mustahil seseorang bisa menulis tanpa
membaca dan menyimak.
Untuk menghasilkan tulisan yang baik tentu syarat yang pertama
adalah memiliki kedua keterampilan berbahasa yang telah diuraikan di atas. Namun
seringkali siswa mengalami kesulitan dalam menulis yang ditimmbulkan dari
ketiadaan imajinasi yang mereka peroleh. Hal ini pernah saya alami ketika dalam
pembelajaran dengan sub materi menulis, hingga satu jam pelajaran selesai tidak
satu pun kalimat yang selesai ditulis oleh seorang siswa di kelas itu. Padahal
beberapa temannya telah menyelesaikan beberapa paragraf, bahkan ada yang hampir
selesai.
Hal inilah yang kemudian saya koreksi, mungkin dalam pembelajaran
yang telah berjalan sesuai dengan prosedur yang ada dalam RPP ternyata tidak
cocok untuk semua siswa yang ada di dalam kelas. Guru memang dituntut untuk
bisa melaksanakan kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Pembelajaran menulis deskripsi bagi sebagian siswa yang terbiasa
membaca dan menulis adalah hal yang mudah, namun bagi siswa yang tidak terbiasa
merupakan hal yang sulit dan membuat jenuh. Selain kesulitan dalam mnyusun
deretan kata-kata juga kesulitan dalam menemukan imajinasi. Imajinasi sangatlah
penting karena ruhnya menulis adalah imajinasi. Sehebat apapun seseorang bisa
menulis tanpa disertai kemampuan berimajinasi maka tidak akan menghasilkan
tulisan yang berbobot.
Salah satu cara efektif untuk melamar imajinasi adalah dengan
menghadirkan contoh yang nyata. Dengan hadirnya contoh yang nyata maka dengan
mudah kita bisa mendeskripsikan suatu objek, tempat, atau bangunan. Metode ini
disebut metode obervasi. Ya, observasi merupakan cara yang paling mendasar
untuk melamar imajinasi, walaupun ini merupakan cara mendasar namun memiliki
peran yang sangat penting untuk memancing imajinasi. Sering-sering saja
berlatih mendeskripsikan suatu objek.
Ibarat tabungan yang bisa kita ambil setiap saat. Objek-objek yang
pernah kita deskripsikan dapat kita ‘panggil’ kembali dari otak kita. Sehingga
semakin sering berlatih mendeskripsikan suatu objek kita pun akan dengan mudah
menulis karena wawasan kita akan terus bertambah. Bagi orang-orang yang
terbiasa menulis tidak perlu mendeskripsikan objek tersebut secara langsung,
tetapi cukup mengingat detail objek yang akan ditulis dan bagi orang yang
memiliki imajinasi tinggi bisa saja objek yang digambarkan atau ditulis itu
tidak ada. Hanya ada dalam imajinasinya sendiri.
Menulis sama seperti kita menggunakan pisau. Semakin sering kita
gunakan dan kita asah maka akan semakin tajam. Begitupun sebaliknya jika kita
malas untuk menulis dan memperdalam kemampuan kita maka menulis selamanya akan
menjadi hal yang sulit.
Ditulis oleh Azat Hidayatulloh, S.Pd.
0 Response to "Melamar Imajinasi Dalam Pembelajaran Menulis"
Post a Comment