PENINGKATAN APRESIASI KARYA SASTRA MELALUI ANALISIS DRAMA FILM “TANAH SURGA KATANYA”
PENINGKATAN
APRESIASI KARYA SASTRA MELALUI ANALISIS DRAMA FILM “TANAH SURGA KATANYA”
MAKALAH
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Drama Indonesia
Dosen
:Drs. H. Dasiman Juhaeni,M.Hum.
Disusun
oleh : Kelompok 1
1. Azat Hidayatulloh
2. Bani Hafidz Z
3. Asep Rudi
4.
5. Lilis Rosita Sari
Semester
: 4 A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MAJALENGKA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Di dalam sastra ada
sebuah hubungan yang sangat erat antara apresiasi, kajian dan kritik sastra
karena ketiganya merupakan tenggapan terhadap karya sastra.
Saat pembaca sudah mampu mengapresiasi
sastra, pembaca mempunyai kesempatan untuk mengkaji sastra. namun, hal ini tak
sekadar mengkaji. Karena mengkaji telah menuntut adanya keilmiahan. Yaitu
adanya teori atau pengetahuan yang dimiliki tentang sebuah karya. Saat
Apresiasi merupakan tindakan menggauli karya sastra, maka mengkaji ialah
tindakan menganalisis yang membutuhkan ilmu atau teori yang melandasinya.
tentang penjelasan mengkaji seperti yang diungkapkan oleh Aminudin (1995:39)
kajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur
dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja
tertentu.
Menurut Moulton, drama adalah : hidup yang dilukiskan dengan gerak (life
presented action). Drama berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘draomai’ yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Drama juga
dapat diartikan karya sastra yang dapat dipentaskan. Jika dalam puisi hanya monolog, cerpen dan novel
perpaduan antara monolog dan dialog maka drama merupakan jenis karya sastra
berbentuk dialog. Dengan membaca naskah drama ataupun melihat pementasannya
maka seseorang dapat mengkaji drama.
Jika dilihat dari media
pementasannya macam, bentuk, dan jenis naskah lakon di bedakan menjadi empat :
1.
Drama
panggung
2.
Drama
radio
3.
Drama
televisi
4.
Drama
film
Keempat
jenis drama tersebut, naskah lakon, teknik penggarapan, dan teknik
pementasannya berbeda. Sesuai dengan hakikat, esensi, dan sifat masing-masing
media yang digunakan.
Dari permasalahan tersebut
penulis mencoba mengangkat sebuah drama film “Tanah Surga Katanya”. Dengan maksud supaya kita dapat mengkaji drama tersebut dan memahami
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
1.2 Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dimaksudkan agar masalah menjadi lebih jelas dan
tidak melebar sehingga membantu memudahkan dalam pemecahan. Adapun masalah yang
akan di analisis adalah :
1.
Apakah
drama film itu?
2.
Apakah
ciri yang membedakan drama film dengan jenis drama lain dan bagaimana tekhnik
penulisan skenarionya?
3.
Bagaimana
penulisan skenario drama film “Tanah Surga Katanya”?
4.
Makna apa
yang terkandung dalam drama film “Tanah Surga Katanya”?
1.3 Tujuan
Tujuan
penulis menyusun makalah ini adalah :
1.
Meningkatkan
apresiasi karya sastra
2.
Memahami pengertian
pengkajian drama film dan memahami perbedaannya dengan jenis drama lain
3.
Mengetahui
penggalan skenario pada drama film “Tanah Surga Katanya”
4.
Memahami
makna yang terkandung dalam drama film “Tanah Surga Katanya”
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Drama Film
Hasil penulisan skenario film
tidak dapat digariskan ke dalam hasil karya sastra. Menulis skenario film bukanlah
mengemukakan keindahan bahasa, tetapi bagaimana caranya mengemukakan suatu
rangkaian gambar yang menggambarkan suatu peristiwa, dan disusun sedemikian
rupa sehingga ia merupakan suatu rangkaian gambar yang dapat bercerita”
langsung” melalui layar putih kepada para penontonnya (Rd. Lingga Wisjnu
MS,.1963: 114; A. Margija Mangunharjana,SJ,1976:13; Soelarko, 1978:27)
Drama Film adalah
sekedar gambar yang bergerak, adapun pergerakannya disebut sebagai intermitten
movement, gerakan yang muncul hanya karena keterbatasan kemampuan mata dan otak
manusia menangkap sejumlah pergantian gambar dalam sepersekian detik.
Soelarko dalam bukunya skenario :
konsep dan teknik menulis cerita film(1978:26) mengemukakan bahwa skenario
adalah bentuk cerita yang diadaptasi untuk perfilman yang penyajiannya
mempunyai kemampuan-kemampuan yang lebih dari cerita panggung. Akan tetapi,
juga mempunyai batas-batas kemampuan.
Seorang penulis skenario harus mengetahui dasar-dasar visualisasi
supaya cara penulisannya tidak menyulitkan visualisasi, malahan harus
memudahkan. Yang dimaksud visualisasi di sini ialah menerjemahkan cerita
tertulis menjadi gambar; untuk itu perlu suatu transformasi suatu pemindahan
dari apa yang tersurat (explicit, actual
meaning ) menjadi tersirat (implicit,
intention meaning), jadi gambar berangkai (Soelarko, 1978:270)
2.2 Hal yang Membedakan
Drama Film dengan Drama Lainnya
Penulisan skenario film tidak
dapat disebut sebagai hasil karya sastra murni (pure literature). Yang dikemukakan dalam penulisan skenario
bukanlah keindahan bahasanya, tetapi bagaimana menggambarkan setiap adegan
sehingga ia dapat ditangkap dan dibayangkan sekaligus jika nanti
divisualisasikan ke dalam film.
Dalam penulisan skenario, kita
mengenal istilah “dissolve” atau
“koma”. Gambaran dissolve sebenarnya
merupakan suatu perpaduan antara dua buah gambar, di mana gambar yang pertama
secara perlahan-lahan menghilang untuk kemudian ditumpangi gambar yang kedua
yang timbulnya pun secara perlahan-lahan pula.
Jika tanda koma dalam peristilahan skenario disebut dissolve, maka tanda titik dalam
skenario disebut “cut”. Sedang untuk
memindahkan dari babak kesatu ke babak yang lain, dalam skenario disebut fade in dan fade out.
Di dalam film, fade in adalah
dari keadaan yang gelap menjadi terang sehingga tampak adegan yang dimaksud,
sedangkan fade out ialah dari adegan
yang terang untuk hilang berganti menjadi keadaan yang gelap.
2.3 Penggalan Skenario
Drama Film “Tanah Surga Katanya”
BABAK PERTAMA : Haris mengajak keluarga pindah ke
Malaysia
FADE
IN
1. Adegan kakek Hasyim berjalan ke kamar
2. Adegan Haris (ayah dari Salman dan Syhahrina)
mendekati ayahnya (kakek Hasyim)
3. Adegan Haris dan ayahnya duduk bersama
4. Adegan orang lewat di depan rumah
5. Adegan kakek Hasyim yang tidak suka terhadap
pembicaraan anaknya yang membanggakan Malaysia
6. Adegan kakek memegang dada, menahan sakit karna
emosi terhadap perlakuan Haris
7. Adegan Haris menenangkan ayahnya
DISSOLVE OUT
DISSOLVE IN
8. Adegan orang lewat di depan rumah
9. Adegan adik (Syahrina) (Syahrina) dan abang
(Salman) masuk rumah
10. Adegan Syahrina dan Salman mencium tangan
ayahnya (Haris)
11. Adegan kakek masuk ke kamar
12. Adegan ayahnya (Haris) berdiri mengambil
oleh-oleh dari Malaysia
13. Adegan ayah memberikan oleh-oleh pada Salman
dan Syahrina
14. Adegan ayah menjanjikan boneka yang besar pada Syahrina
15. Adegan ayah mengambil pistol-pistolan dari
tangan salma
16. Adegan ayah menjanjikan pistol-pistolan yang
original pada Salman
DISSOLVE OUT
DISSOLVE IN
17. Adegan kakek Hasyim keluar dari kamar
18. Adegan ayah mengelus kepala Syhahrina sambil
mengajak pindah ke Malaysia
DISSOLVE OUT
DISSOLVE IN
19. Adegan kakek Hasyim keluar dari rumah
20. Adegan Haris berdiri lalu melangkah ke luar,
mengejar kakek Hasyim
21. Adegan Haris memakai sepatu dengan buru-buru
FADE OUT
ADEGAN KEDUA : Haris dan Syahrina berangkat ke
Malaysia
FADE
IN
1.
Adegan
kakek Hasyim duduk di depan makam istrinya
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
2.
Adegan
Salman keluar dari rumah
3.
Adegan
Salman berbicara pada kakek
4.
Adegan
kakek menggeleng
5.
Adegan
Salman meletakan tas dan berlari mnghampiri kakek
6.
Adegan
ayah dan adik (Syahrina) keluar dari rumah
7.
Adegan
Salman bertanya pada kakek
8.
Adegan
kakek terdiam dan berdiri
9.
Adegan
ayah menatap muka adik (Syahrina)
10. Adegan Salman berbicara pada ayahnya
11. Adegan ayah berbicara dan mengelus kepala adik
(Syahrina)
12. Adegan adik (Syahrina) mencium tangan kakek
Hasyim,pamitan
13. Adegan kakek mengelus kepala adik (Syahrina)
14. Adegan adik (Syahrina) berjalan kembali ke
ayahnya
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
15. Adegan adik (Syahrina) memutar badan dan
menyerahkan wadah berisi busa sabun kepada Salman
16. Adegan Salman berlari ke arah adik (Syahrina)
17. Adegan adik (Syahrina) melepas pegangan tangan
Salman
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
18. Adegan ayah mengangguk
19. Adegan ayah dan adik (Syahrina) berangkat
20. Adegan Salman mengikuti ayah dan adik
(Syahrina)
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
21. Adegan kakek menatap anak dan cucunya pergi
22. Adegan Salman meniupkan busa sabun
23. Adegan adik (Syahrina) menengok dan mengangkat
tangan
24. Adegan salman meniupkan busa sabun dan terduduk
pada pangkal pohon
FADE OUT
BABAK KETIGA : Kakek Hasyim meninggal
FADE
IN
1.
Adegan
Ayah menyuruh Adik (Syahrina) duduk di Kursi sambil memberikan crayon dan
kertas gambar
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
2.
Adegan
Ayah masuk menonton bola.
3.
Adegan adik
(Syahrina) melirik ayah yang memasuki ruangan
4.
Adegan adik
(Syahrina) mengambil crayon
FADE OUT
FADE IN
5.
Adegan Pak
Hasyim di perahu bersama Dokter Anwar, Salman,Ibu Astuti dan tukang perahu
6.
Adegan
Dokter Anwar berbicara kepada Pak Hasyim
7.
Adegan
dokter anwar mengabil obat di tas
8.
Adegan
tukang perahu terus mendayung
FADE OUT
FADE IN
9.
Adegan
supporter Malaysia bersorak
10. Adegan adik (Syahrina) meminum Real Good
11. Adegan adik (Syahrina) menggambar
12. Adegan tukang perahu mendayung
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
13. Adegan dokter Anwar memeriksa kakek Hasyim
14. Adegan Kakek Hasyim berbicara pada Salman
FADE OUT
FADE IN
15. Adegan supporter Malaysia bersorak-sorai
FADE OUT
FADE IN
16. Adegan Pak Hasyim meninggal
17. Adegan Salman menangis
18. Adegan dokter anwar mendekatkan dirinya pada
Salman mencoba menenangkan
FADE OUT
FADE IN
19. Adegan supporter bersorak-sorai
FADE OUT
FADE IN
20. Adegan Bu Astuti ikut menangis
FADE OUT
FADE IN
21. Adegan Suporter Malaysia bergembira karena Malaysia
menang
22. Adegan Salman menelpon ayahnya yang sedang menonton
bola
23. Adegan ayah terdiam
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
24. Adegan Adik (Syahrina) menunjukan gambarnya
kepada ayahnya
25. Adegan supporter bergembira
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
26. Adegan Salman menangis. Bu Astuti mencoba
menenangkan Salman dengan mengelus punggungnya
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
27. Adegan ayah terdiam memegang handphone
DISSOLVE
OUT
DISSOLVE
IN
28. Adegan Salman menangis, suasana bertambah
gelap, petir menyambar
FADE OUT
2.4 Makna yang Terkandung
dalam Film “Tanah Surga Katanya”
Karya sastra (yang baik) senantiasa
mengandung nilai atau value.
Nilai-nilai itu dikemas dalam wujud stuktur karya sastra yang secara implisit
terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema dan amanat.
Adapun makna yang terkandung dalam
penggalan film “Tanah Surga Katanya” di atas adalah apapun yang terjadi pada negeri ini jangan sampai kehilangan cintamu
pada Indonesia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jika dilihat dari media pementasannya macam, bentuk, dan jenis naskah
lakon di bedakan menjadi empat :
1.
Drama
panggung
2.
Drama
radio
3.
Drama
televisi
4.
Drama
film
Hasil penulisan
skenario film tidak dapat digariskan ke dalam hasil karya sastra. Menulis
skenario film bukanlah sekedar mengemukakan keindahan bahasa, tetapi bagaimana
caranya mengemukakan suatu rangkaian gambar yang menggambarkan suatu peristiwa,
dan disusun sedemikian rupa sehingga ia merupakan suatu rangkaian gambar yang
dapat bercerita” langsung” melalui layar putih kepada para penontonnya (Rd.
Lingga Wisjnu MS,.1963: 114; A. Margija Mangunharjana,SJ,1976:13; Soelarko, 1978:27)
Penulisan
skenario film tidak dapat disebut sebagai hasil karya sastra murni (pure literature). Yang dikemukakan
dalam penulisan skenario bukanlah keindahan bahasanya, tetapi bagaimana
menggambarkan setiap adegan sehingga ia dapat ditangkap dan dibayangkan
sekaligus jika nanti divisualisasikan ke dalam film.
Tanda koma dalam
peristilahan skenario disebut dissolve,
tanda titik dalam skenario disebut “cut”.
Sedang untuk memindahkan dari babak kesatu ke babak yang lain, dalam skenario
disebut fade in dan fade out.
Makna yang
terkandung dalam penggalan film “Tanah Surga Katanya” adalah apapun yang terjadi pada negeri ini jangan
sampai kehilangan cintamu pada Indonesia.
3.2 Saran
1.
Pembaca sastra senantiasa memperbanyak membaca karya sastra termasuk drama
2.
Sebagai
masyarakat sastra kita harus memahami jenis-jenis drama lakon dan memahami
perbedaannya
DAFTAR PUSTAKA
Aminnudin, 2010,
Pengantar Apresiasi karya Sastra, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Djoko pradopo,
Rakhmat, 2007, Prinsip-prinsip karya sastra, Yogyakrta: Gadjah mada University
press.
Rosidi, Ajip 1968,
Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Bandung : Putra Bardir.
Keren, Pak...
ReplyDeleteTinggal dirapikan lagi...
Terima kasih kaka atas masukannya
ReplyDelete