Waspadai Globalisasi Menjadi Pemicu Ketidaktaatasasan Dalam Berbahasa
Dewasa ini kita
tengah dihadapkan pada situasi globalisasi. Suka atau tidak suka, mau tidak mau
globalisasi kini telah melanda ke seluruh negara. Tidak ada seorang pun yang
tahu kapan dimulainya globalisasi, yang jelas di segala penjuru dunia isu
globalisasi layak untuk menjadi bahan pembicaraan. Globalisasi mengakibatkan
membaurnya kebudayaan antar bangsa di dunia, tanpa ada tameng yang bisa
menghalanginya.
Salah satu
hasil dari budaya masyarakat adalah bahasa. Tidak terkecuali di Indonesia,
bahasa Indonesia yang menjadi identitas bangsa kita kini mulai perlahan
penuturnya mulai menjauh dari asas kebahasaan. Ketidaktataasasan inilah yang
merusak bahasa sendiri, bahasa yang telah susah payah diperjuangkan oleh pemuda
yang dideklarasikan dalam sumpah pemuda. Bahasa yang menjadi alat pemersatu
keragaman budaya di Indonesia.
Tidak hanya di
masyarakat kota-kota besar, namun hingga pelosok desa pun sudah menunjukan
adanya indikasi ketidaktaatasasan berbahasa. Bahkan dalam acara resmi
kenegeraan dan diskusi ilmiah dilingkungan akademik yang semestinya menggunakan
bahasa Indonesia yang baku pun kini dengan mudah kita temui kesalahan.
Kesalahan yang dicirikan akibat adanya globalisasi adalah penggunaan bahasa
Indonesia yang dicampur dengan menggunakan bahasa asing. Bahasa asing yang
relatif sering digunakan adalah bahasa Inggris. Mungkin jika menggunakan bahasa
Indonesia terkesan tidak mewah, tidak modern, dan tidak bergengsi dan
sebaliknya, penggunaan bahasa asing
dianggap bahasa yang mewah, modern, dan bergengsi. Bukankah ini sebagai suatu
bukti adanya pengikisan rasa nasionalisme?
Padahal
kata-kata yang berasal dari bahasa asing sudah memiliki padanan kata dalam
bahasa Indonesia. Pusat Bahasa, sebagai lembaga pusat yang menangani masalah
kebahasaan sudah memfasilitasi kata-kata untuk digunakan agar tidak ada lagi
penggunaan bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa asing. Tentu kita
lebih sering menggunakan kata “download” daripada “unduh”, lebih sering
mengguankan “mouse´ daripada tetikus, lebih sering menggunakan “upload”
daripada “unggah”, lebih sering menggunakan “e-mail” daripada “sur-el”,
dan masih banyak lagi contoh kesalahannya. Seberapa besar rasa keindonesiaan
kita?
Media massa,
yang semestinya menjadi sarana belajar masyarakat luas pun turut mempercepat
penyeberan ‘virus’ ketidaktaatasasan dalam berbahasa. Banyak acara di telivisi
swasta kita yang menayangkan acara yang menggunakan bahasa yang campur aduk.
Jika hal ini dibairkan secara terus menerus dikhawatirkan akan terjadi
degredasi rasa nasionalisme dari generasi muda, penerus bangsa. Bahkan dalam
suatu seminar di balai bahasa Putu Wijaya menyebut ketidaktaatasasan dalam
berbahasa ini adalah suatu ‘bencana nasional’. Tampaknya tidak berlebihan
pernyataan sastrawan tersebut, mengingat kondisi pemakaian bahasa Indonesia
benar-benar menunjukan adanya ‘ketipisan’ dari penuturnya.
Sebenarnya
bukan menjadi persoalan jika mempelajari bahasa asing dan menggunakannya karena
belajar bahasa asing pun kini menjadi suatu kebutuhan dalam mengahadapi arus
globalisasi.namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana dan kapan bahasa
asing itu digunakan. Jika dalam lingkungan dan suasana formal apalagi acara
kenegaraan sudah seharusnya yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baku.
Referensi:
0 Response to "Waspadai Globalisasi Menjadi Pemicu Ketidaktaatasasan Dalam Berbahasa"
Post a Comment