ABSURDITAS CINTA
MENTARI merangkak pelan menuju
peraduannya. Tergelincir ke ufuk barat menciptakan bayangan siluet panjang.
Lembayung jingga tengah merentang, menudungi senja dari sengatan sang raja
siang. Mega tipis meriasinya dengan kelembutan. Memoles suasana menjadi semakin
sempurna.
Di taman kota
Manchester ini, di bawah sebatang pohon maple, aku dan Anna duduk berdampingan.
Menikmati indahnya matahari terakhir musim gugur. Menurut ramalan cuaca di
televisi, besok musim dingin akan tiba. Karena itu, aku dan Anna tidak ingin
melewatkan momen yang sangat langka ini.
Tanganku menggandeng
bahu Anna dan membelainya lembut. Sementara, kepalanya rebah di atas bahuku.
“Nick, terkadang aku merasa geli bila mengingat masa lalu.” ujarnya, memutus
keheningan di antara kami.
“Cinta itu memang aneh,
kita tidak pernah tahu kapan akan datang dan kapan akan pergi.” sahutku sok
filosofis.
Anna mengangkat
kepalanya, lalu menatapku. Kami bersitatap dan saling melempar senyuman.
Setelah itu, ia kembali merebahkan kepalanya di atas bahuku.
Sungguh suatu
kebetulan, hari terakhir musim gugur jatuh pada hari sabtu. Hari di mana para
kawula muda menikmati kebebasannya. Dan suatu kebetulan pula, malam ini akan
berlangsung pertandingan sepakbola derby
Manchester, yaitu Manchester United melawan Manchester City, yang akan
berlangsung di stadion Old Trafford.
Dari taman ini, stadion
Old Trafford berjarak sekitar 10 Km. Dan dengan mobilku bisa ditempuh kurang
dari sepuluh menit. Rencananya aku dan Anna akan menonton pertandingan tersebut.
Meskipun aku dan Anna
adalah sepasang kekasih, namun klub sepakbola favorit kami berbeda, bahkan
berlawanan. Aku sangat loyal kepada The Cityzen, sementara Anna sangat fanatik
terhadap MU. Karena itu, bila kami menonton bersama pertandingan yang mempertemukan
kedua klub tersebut, kami pasti akan saling olok klub kesayangan satu sama
lain. Tidak jarang dahi orang-orang akan berkernyit melihat kami duduk
berdampingan padahal jersey yang kami kenakan berbeda.
***
SEBENARNYA dulunya menjadi pacar Anna
adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam benakku. Bahkan aku pernah
berjanji di hadapannya tidak akan pernah mau menjadi pacarnya.
“Kalaupun semua
perempuan di dunia ini mati, dan tinggal kamu satu-satunya perempuan yang
hidup, aku berjanji tidak akan pernah mau menjadi pacarmu!” ujarku saat itu.
Ketus, pedas, dan angkuh. Namun ternyata aku telah termakan oleh janjiku
sendiri.
Aku dan Anna besar
bersama di sebuah kompleks perumahan elite di kota Manchester ini. Berjarak
sekitar tujuh kilometer ke arah utara dari pusat kota. Kami tinggal satu blok.
Dan dari SD hingga SMA, kami selalu satu sekolah. Bahkan sempat beberapa kali
satu kelas. Beranjak kuliah, Anna pergi ke Jerman untuk masuk konservatorium.
Setelah lulus, ia kembali ke Inggris dan menjadi pemain biola handal.
Kami kembali bertemu di
sebuah reuni sekitar dua tahun lalu. Dan aku sangat terkejut melihat
penampilannya. Bukan hanya aku, semua yang hadir dalam acara tersebut terkejut
melihat penampilannya. “Amazing…!” desis mereka sambil berdecak kagum. Padahal
kami semua tahu seperti apa penampilan dia dulu.
Bila ada orang yang
penampilannya paling aneh, norak, dan menggelikan, yang pernah aku temui di
daratan Inggris ini, bahkan mungkin di dunia ini, maka itu adalah Anna.
Bayangkan, setiap pergi ke sekolah penampilannya selalu sama. Selalu membuat
aku mual, dan selalu tidak menarik untuk dipandang. Rambutnya selalu disanggul
ke atas, memakai kacamata besar berbingkai kotak, mamakai rok berwarna merah
marun, memakai blus putih, serta dasi kupu-kupu berwarna serupa dengan roknya.
Dan aku yakin, dengan penampilannya itu tidak akan ada lelaki yang mau menjadi
pacarnya, bahkan untuk sekadar menjadi teman kencannya di pesta dansa.
Penampilannya yang
norak itu kerap membuatnya menjadi bahan olokan teman-teman sekelasnya, bahkan
teman satu sekolahnya. Dan, yang paling sering mengejek atau menjailinya adalah
aku. Tanpa sepengetahuannya aku sering memasukkan sampah ke dalam tas atau
lokernya, semisal: bungkus makanan, bungkus es krim, atau kulit kacang. Bahkan aku
pernah memasukkan katak hidup ke dalam tasnya. Lalu setelah menjailinya,
biasanya aku dan teman-temanku akan tertawa terbahak-bahak sepanjang perjalanan
pulang sekolah, membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat mendapati sampah
di dalam tasnya.
Aku rasa sebenarnya ia
tahu siapa yang kerap menjailinya, namun ia tak pernah marah atau membalasku.
Dan bila kami berpapasan, ia hanya memandangku dengan pandangan yang dapat
membangkitkan rasa iba. Sebenarnya terkadang aku merasa bersalah kepadanya.
Tetapi setan yang tinggal di dalam hatiku selalu berbisik, “Jangan teperdaya,
Nick. Itu hanya trik agar kamu iba dan berhenti menjailinya.” Maka, aku pun
kembali meneguhkan hati untuk kembali menjailinya di kemudian waktu.
Suatu ketika ia jatuh
sakit, dan tidak masuk sekolah selama dua minggu. Saat itu kami kelas VII. Mrs.
Clara, wali kelas kami, bergagas untuk menjenguknya. Maka, aku dan semua teman
sekelasku menjenguk ke rumah sakit tempat ia di rawat. Dan hal yang paling
menjengkelkan pun terjadi. Dengan manjanya ia memintaku untuk mengupaskan jeruk
untuknya. Tidak berhenti sampai di situ, ia pun memintaku untuk menyuapinya.
Tentu saja semua temanku mengolok-olokku. Aku menatap Mrs. Clara dengan tatapan
protes. Mrs. Clara mengerti maksud tatapanku, lalu berkata, “Nick, orang sakit
itu harus disenangkan hatinya agar cepat sembuh. Lagi pula, selama ini kamu kan
sering berbuat jahat kepada Anna. Ini kesempatanmu untuk menebus kesalahan.
Anggaplah sebagai permintaan maafmu kepadanya.”
“Tapi, Mrs…” protesku.
“Nick!” Mrs. Clara
menukasku sambil mengacungkan jari telunjuknya. Aku tahu itu adalah sebuah
ancaman bagiku. Bila Mrs. Clara sudah mengacungkan jari telunjuknya, artinya
reputasiku terancam. Segala kelakuan burukku bisa dilaporkan kepada Mom atau
Ded-ku. Maka, dengan terpaksa aku pun menuruti segala keinginan Anna. Aku
berjalan mendekati ranjang tempat Anna berbaring, duduk di sampingnya,
mengambil jeruk, lalu mengupasnya.
Sambil mengupas jeruk,
aku menatap Nyonya Hellen, ibu Anna, yang berdiri di samping Mrs. Clara.
“Nyonya, saya rasa kepala anak Anda terbentur.” gerutuku gemas. Nyonya Hellen
hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Adapun semua temanku terpingkal-pingkal.
Sementara, Anna hanya tersipu. Mungkin baginya ucapanku itu adalah sebuah
sanjungan.
“Maaf telah merepotkanmu,
Nick.” ucapnya dengan wajah merona.
Aku hanya menatapnya
sambil menahan kesal.
Dan, kekesalanku terus
terbawa hingga aku pulang ke rumah. Mom mengerti suasana hatiku. Maka, ia pun
menghampiriku. “Kamu kenapa, Nick? Pulang sekolah bukannya mencium pipi Mom,
malah cemberut seperti itu.” tanyanya.
“Aku sedang kesal,
Mom.” sahutku.
“Apa yang membuatmu
kesal?”
Aku pun menceritakan
alasannya.
Mom tersenyum mendengar
ceritaku. “Kenapa Mom tersenyum seperti itu? Mengingatkan aku kepada Nyonya
Hellen. Jangan-jangan kalian berdua telah berkonspirasi untuk menjebakku.”
gerutuku.
“Menurut Mom, kau
terlalu jahat kepada Anna.” ujarnya sambil tersenyum.
Aku menatap Mom.
“Kau tak punya alasan
untuk membenci dia. Dia perempuan yang baik.” sambung Mom.
“Dan jangan lupa dia
perempuan yang aneh, Mom.” timpalku datar.
“Nick, kau tidak boleh
menilai seseorang dari penampilan fisiknya. Siapa tahu saja di mata Tuhan dia
lebih mulia dari kita.” ujar Mom.
Aku sudah menyangka Mom
akan lebih membela Anna daripada aku, anaknya sendiri. Semua orang dewasa dan
anak-anak yang tinggal di kompleks ini memang menyukai Anna. Menurut mereka,
dia gadis yang manis dan baik. Aku sering mendengar setiap sabtu sore ia selalu
memborong cokelat atau permen di toko Tuan Singh untuk dibagikan kepada
anak-anak penghuni panti asuhan. Aku pun sering mendengar setiap satu bulan
sekali ia selalu bersepeda mengumpulkan kaleng-kaleng yang sudah ia sebar satu
bulan sebelumnya ke berbagai tempat usaha di seluruh pelosok kota. Ia
meletakkannya di atas gerai penjualan, biasanya dekat kasir, supaya orang-orang
bisa memasukkan uang receh ke dalamnya. Kemudian ia akan mengganti
kaleng-kaleng itu dengan kaleng yang baru, begitu seterusnya. Dan, semua uang
hasil sumbangan itu akan ia serahkan kepada pengurus panti. Satu hal lagi, bila
ingin mencarinya di hari libur, jangan mencari ke tempat lain, cari saja ke
panti asuhan, karena ia pasti ada di sana; bermain bersama anak-anak penghuni
panti.
“Mom rasa kau harus
lebih bersikap baik kepadanya. Bila kalian sudah dekat, Mom yakin kau akan
menyukainya. Bahkan mungkin kalian akan berpacaran. Dan tidak menutup
kemungkinan suatu saat nanti kalian akan menikah.” sambung Mom.
Tentu saja aku terkejut
mendengar ucapan Mom. “Yang benar saja, Mom. Mana mungkin aku mau kepada gadis
seperti dia. Memangnya Mom mau punya menantu yang aneh? Apakah Mom sudah siap
dengan ejekan orang-orang?”
“Menurut Mom, dia gadis
yang manis. Selain kau dan teman-temanmu, tak ada orang yang suka mengejeknya.”
“Kalau yang Mom maksud
manis itu adalah norak, sepertinya Mom harus lebih banyak membuka kamus
bahasa.” cibirku.
Mom hanya menatapku
sambil menggeleng-gelengkan kepala.
***
TAHUN-TAHUN di SMA memang merupakan
masa-masa terindah yang akan selalu dikenang oleh banyak orang, termasuk
olehku. Pada masa ini, orang-orang mulai memikirkan masa depannya, mencari jati
dirinya, mengenal cinta dan mencintai dengan cara yang berbeda.
Namun hal yang indah
selalu saja terasa cepat berlalu. Tanpa terasa, aku sudah duduk di kelas XII.
Ujian akhir telah dilaksanakan. Dan aku sangat sedih. Sebab artinya tak lama
lagi aku akan kehilangan sahabat-sahabatku. Tetapi, ada sesuatu yang aneh yang
tumbuh di dalam hatiku. Untuk pertama kalinya aku merasa takut kehilangan Anna.
Entah kenapa.
Sebenarnya Anna tidak
jelek, benar kata Mom, dia gadis yang manis, bahkan cantik. Hanya saja ia
kurang bisa berdandan atau mematut-matutkan penampilan, sehingga terlihat
norak. Kalau saja ia bisa sedikit memoles dirinya, aku yakin banyak lelaki yang
mengantre untuknya, termasuk mungkin… aku.
Hari ini adalah hari
perpisahan. Masing-masing kelas diminta mengirimkan perwakilannya untuk tampil
di atas panggung. Dan kelasku akan menampilkan drama klasik Romeo dan Juliet.
Aku berdiri di luar
gedung auditorium, tempat acara perpisahan diadakan. Saat ini aku sedang
menunggu Anna. Aku hendak meminta maaf kepadanya atas semua yang telah
kulakukan. Sebenarnya aku segan meminta maaf kepadanya, tetapi Mom terus saja
mendesakku.
Aku dengar dalam drama
itu Anna akan berperan sebagai Juliet. Alasannya karena tidak ada lagi yang
bersedia tampil untuk mewakili kelas kami. Sejujurnya aku merasa geli
membayangkan hal tersebut. Mana ada Juliet yang norak dan kikuk sepertinya.
Barangkali drama yang seharusnya mengharukan itu akan berubah menjadi komedi
yang menggelikan. Apalagi yang berperan sebagai Romeo adalah Edy; orang yang
penampilannya lebih parah dari Anna. Gagap, kikuk, norak, berkacamata tebal,
dan berjerawat. Banyak yang bilang mereka berdua adalah pasangan serasi.
Tiba-tiba pintu
auditorium terbuka, David, seorang temanku, melongok dari balik pintu. Aku
menatapnya.
“Nick, kau harus
melihatnya. Ini benar-benar hebat.” serunya.
“Maksudmu Anna dan Edy
berciuman?” cibirku tawar.
David tahu aku tidak
tertarik dengan pertunjukan itu. “Terserah kau saja.” pungkasnya, kemudian
kembali masuk dan menutup pintu.
Beberapa puluh menit
berlalu, gedung auditorium terdengar sepi. Apakah pertunjukannya sehebat yang
David katakan sehingga penonton larut dalam suasana? Tanyaku dalam hati. Aku
penasaran. Maka, dengan perlahan, aku membuka pintu dan melongok ke dalam.
Tampak dua orang tengah berada di atas panggung, yaitu Edy dan Anna. Edy
berbaring di atas pangkuan Anna, sementara Anna menekuri Edy. Ini pasti ending
dari drama itu. Semua tahu bahwa Romeo meninggal setelah menenggak racun.
Penampilan Anna sangat
berbeda dari biasanya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Tidak berkacamata.
Mengenakan gaun putih bermodel abad pertengahan, dan mahkota dari bunga-bunga
melingkar di kepalanya. Sangat cantik.
Aku terkesima. Hatiku
terasa rontok. Dan tanpa sadar, aku masuk ke gedung, menutup pintu, lalu
berdiri di depan pintu dengan mulut melongo. Sayang, itu adalah terakhir
kalinya aku melihatnya. Menurut seorang temannya, begitu pertunjukan usai ia
langsung bergegas ke bandara dan terbang ke Jerman. Bahkan aku tak sempat untuk
meminta maaf kepadanya.
0 Response to "ABSURDITAS CINTA"
Post a Comment