ANGIN KECIL
Kenapa harus bertemu dengannya? Gerutu
Siti di dalam hati, jengkel karena Hendi terus saja mengganggunya. Sebenarnya
wajar jika seorang lelaki menyukai seorang wanita dan berupaya untuk
mendapatkannya. Bahkan sekalipun lelaki itu berbuat nekat, nakal, dan sedikit
mengganggu. Tetapi jika wanita itu telah bersuami, bukankah itu sangat tidak
wajar? Melanggar norma dan etika. Ya, Siti bukan lagi anak perawan yang boleh
meladeni lelaki mana pun yang mendekatinya. Ia telah bersuami dan memiliki dua
orang anak.
Sudah sering ia
menasihati Hendi agar menjauh dan tak lagi mengganggu. Namun lelaki itu tetap
keras kepala. Membuat Siti merasa malu kepada para tetangga dan orang-orang
sekitarnya. Meskipun di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa, dan memang
Siti tidak pernah berniat menjalin hubungan yang spesial dengan Hendi, tetapi,
apakah orang-orang itu akan mengerti? Bukankah orang-orang lebih sering menilai
sesuatu dari apa yang mereka lihat?
Karena hal tersebut,
Siti kerap diwanti-wanti oleh kedua orangtuanya agar berhati-hati dan jangan
sampai tergoda. Bahkan Syifa, putri sulungnya yang saat ini duduk di kelas
tujuh SMP, ikut menasihatinya. Ia selalu uring-uringan manakala Hendi
berkunjung ke rumah mereka. “Ingat, Ma, Mama sudah bukan ABG lagi.” rajuk Syifa
suatu ketika.
Awal munculnya
permasalahan ini adalah saat Siti mentransfer uang di sebuah Bank beberapa
minggu lalu. Di sana, ia bertemu Hendi setelah sekitar lima belas tahun tak
bertemu. Rupanya Hendi bekerja di Bank tersebut dan menduduki jabatan yang
cukup tinggi.
“Ini benar-benar
kejutan. Aku tak menyangka kita akan kembali bertemu di tempat ini.” ujar Hendi
semringah.
Ingatan Siti tidak
buruk. Meskipun telah belasan tahun tak bertemu, ia masih ingat kepada Hendi.
Wajar, sebab selain kakak kelasnya semasa aliyah, Hendi pun sering
membimbingnya mengaji.
Lalu, mereka pun
berbincang ngalor ngidul mengenai kabar, pekerjaan, serta keluarga.
“Boleh aku minta nomor
ponselmu?” tanya Hendi.
Tanpa rasa curiga atau
keberatan, Siti pun memberikannya.
“Rumahmu masih yang
dulu?”
“Iya.” angguk Siti.
“Keberatan jika
sewaktu-waktu aku berkunjung?”
“Tentu saja tidak.
Pintu rumahku selalu terbuka untukmu.” sahut Siti ramah.
Namun, siapa yang
menyangka jika keramahan Siti itu akan disalahartikan oleh Hendi. Hendi pikir
Siti memberinya kesempatan untuk mendekati. Padahal tabiat Siti memang
demikian. Ia ramah kepada siapa pun. Itu pula alasan mengapa dulu banyak lelaki
yang jatuh hati kepadanya, termasuk Hendi. Ternyata keramahan tidak melulu
mendatangkan kebaikan, adakalanya juga disalahartikan.
***
Suami Siti yang bekerja di luar kota dan
jarang pulang menjadi kesempatan bagi Hendi untuk sering berkunjung ke rumah
Siti. Bahkan hampir setiap hari. Awalnya Siti tidak keberatan dan tidak menaruh
curiga, namun lama-kelamaan ia merasakan keganjilan pada sikap Hendi. Lelaki
itu sering meng-SMS dan memberinya perhatian, bahkan anak-anak dan orangtuanya
tak luput dari perhatian mantan kakak kelasnya itu. Siti tidak terlalu bodoh
untuk tidak paham maksud perhatian Hendi.
“Memangnya tidak
boleh?” Hendi balik bertanya saat Siti bertanya alasan lelaki itu sering
berkunjung ke rumahnya.
“Bukan tidak boleh.
Kalau niatmu baik, untuk bersilaturahmi atau menambah sodara, aku akan
menerimanya dengan senang hati. Tetapi kalau niatmu tidak baik, bahkan untuk
mengusik rumah tanggaku, lebih baik kamu menyingkir.” tegas Siti.
“Tenang saja, aku hanya
ingin bersilaturahmi.” ujar Hendi. Tentu saja itu hanya sebuah dalih untuk
menutupi niatnya yang sebenarnya.
Mendengar jawaban
tersebut Siti tak lagi mempermasalahkan kunjungan-kunjungan Hendi. Namun
belakangan Hendi kerap mempertanyakan hubungannya dengan suaminya.
“Alhamdulillah.
Rukun-rukun saja.” sahut Siti.
Dan, sungguh
mengejutkan. Tiba-tiba Hendi mengungkapkan perasaannya yang telah terpendam
selama lima belas tahun. Ya, lima belas tahun. Tak terbayangkan bagaimana
lelaki itu bisa bertahan dalam siksa akibat cinta yang terpendam selama lima
belas tahun.
“Ti, sebenarnya sejak
dulu aku menyukaimu, tetapi tak pernah berani mengatakannya,” ungkap Hendi.
“Aku sangat bahagia ketika kita kembali bertemu. Akhirnya Tuhan mengabulkan
doa-doaku.”
Siti tercengang-bengang
seperti orang yang tersambar petir di siang bolong. Ia tak pernah menyangka dan
tak pernah tahu Hendi menaruh hati kepadanya. Saking tak percaya dengan apa
yang ia dengar, ia hampir menyangka pendengarannya bermasalah. Ini benar-benar
gila! Desisnya dalam hati.
“Apakah kamu sadar
dengan ucapanmu barusan?” tanya Siti.
“Ya, aku sadar. Bahkan
sangat sadar.”
Sejenak Siti menghela
napas panjang, lalu mengembuskannya kembali melalui mulutnya. “Aku harap kamu
bisa bersikap lebih bijak. Sepatutnya kamu sadar akan keadaan kita sekarang.
Kita sudah tidak muda lagi dan telah sama-sama punya keluarga. Secara etika,
rasanya tidak pantas jika kamu berkata demikian. Meskipun keluargaku tidak
kaya, tetapi kami tidak pernah kekurangan. Suamiku selalu menafkahiku lahir dan
batin. Jadi, keliru jika kamu berpikir aku akan mengkhianati suamiku.”
“Iya, Ti, aku pun sadar
ini sebuah kesalahan. Tetapi, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk melawan
perasaan ini?” rintih Hendi.
Ya, ini memang sebuah
kesalahan, bahkan sangat salah. Seharusnya Hendi tidak berbuat itu. Jika ingin
mengungkapkan perasaannya, mestinya ia melakukannya lima belas tahun silam,
saat keduanya masih sama-sama bebas menentukan pilihan. Jika sekarang, agama,
adat, norma, dan etika, jelas-jelas melarangnya. Meskipun rumah tangganya
sedang berada di ambang perceraian, tetapi mengganggu istri orang lain adalah
perbuatan yang tidak bisa dimaafkan.
Siti terbisu. Jika
menuruti hawa nafsunya sebenarnya ia dilema dihadapakan pada situasi ini.
Bagaimana tidak, suaminya bekerja di luar kota, jarang pulang, dan berpenghasilan
kecil karena hanya bekerja sebagai OB di sebuah rumah sakit. Apalagi merawat
anak-anak seorang diri bukanlah pekerjaan mudah. Duri tajam menancap ke dalam
hatinya setiap kali melihat sepasang suami istri berjalan bersama, tertawa
ceria sembari menggandeng lengan anak-anak mereka. Jujur, ia pun ingin
merasakannya. Dan, luka itu terasa semakin bertambah saat menyadari bahwa
suaminya bukan tipe lelaki romantis yang gemar mengajak jalan-jalan, makan
malam hanya berdua ditemani cahaya lilin, atau memberi karangan bunga. Sangat
berbanding terbalik dengan Hendi yang sedari dulu memang dikenal sebagai pria
romantis. Belum lagi, kekayaan mantan kakak kelasnya itu sangat menggiurkan.
Hendi pernah berdecak
sambil menggeleng-gelengkan kepala menampakkan rasa ibanya mengetahui Siti
harus berjualan gorengan demi membantu perekonomian keluarga. Hal itu membuat
hati Siti bergemuruh dan nyaris goyah.
Namun ia sadar,
alangkah jalang dan tidak bijaknya jika ia tergoda oleh lelaki lain. Ia tahu
menodai kesucian rumah tangga akan mendatangkan petaka. Pernikahan adalah
sesuatu yang sakral lagi sungguh-sungguh. Tuhan menyaksikan ikrar sepasang
manusia yang memutuskan untuk hidup bersama dalam suka maupun duka. Sudah
barang tentu Ia akan sangat murka jika manusia mengkhianatinya. Dan jika Tuhan
sudah murka, jangan harap hidup akan bahagia.
Tetapi, bagaimana pun
ia adalah seorang wanita. Dan hati wanita serapuh awan putih. Ia takut jika
suatu saat ada permasalahan di dalam rumah tangganya yang mengalutkan
pikirannya sehingga ia tergoda. Bukan perkara mudah tetap berjalan lurus saat
pikiran sedang kalut.
***
Siti terjaga dari lelapnya saat
tiba-tiba saja ponselnya berdering. Jika mendengar dari nadanya, itu adalah
nada SMS masuk. Dengan perasaan segan dan mata terpejam karena tergayuti
kantuk, tangannya meraba-raba meja kecil di samping ranjangnya demi mencari
ponselnya. Setelah mendapatkannya, ia memaksakan membuka kelopak matanya yang
terasa lengket, lalu menatap jam pada ponselnya. Pukul dua pagi. Ia pun
beranjak duduk, lantas membuka dan membaca SMS tersebut.
“Ma, maaf jika selama
ini Bapak belum bisa membahagiakan Mama dan anak-anak. Bapak sadar akan hal
itu. Bapak selalu jauh dari kalian dan tak bisa seperti ayah-ayah orang lain.”
Itu adalah SMS dari
suaminya. Entah kenapa suaminya yang saat ini tengah di luar kota dan baru akan
pulang hari raya nanti, mengirimkan SMS semacam itu. Apalagi pukul dua dini
hari bukanlah waktu ideal untuk mengirimkan SMS. Apakah suaminya tahu perihal
Hendi? Agaknya benar bahwa hati sepasang manusia saling bertaut.
Belakangan ini suaminya
memang kerap meng-SMS dan mengatakan bahwa hatinya sering merasa gelisah.
Tetapi saat ditanya apa penyebabnya, ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Tanpa terasa, air mata
Siti meleleh dari matanya. Ada rasa sesal di dalam hatinya karena telah
menyembunyikan masalah ini dari suaminya. Bukan bermaksud menyepelekan atau tak
ingin melibatkan suaminya. Tetapi, ia takut suaminya tidak percaya, bahkan
menuduh yang macam-macam.
Di sinilah rumah tangga
benar-benar diuji. Dapatkah pasangan saling terbuka dan percaya? Dapatkah
mereka tetap teguh di tengah godaan yang menerpa?
Tak berapa lama, ponsel
Siti kembali berdering. Lagi-lagi suara SMS masuk. Ia pun membuka dan membaca
SMS tersebut. Ternyata dari Hendi.
“Bangun, Ti, ayo salat
tahajud!” Demikian isi SMS Hendi.
Siti benar-benar tak
mengerti polah Hendi. Ia acap menyuruh Siti berbuat kebajikan, termasuk
membangunkannya di sepertiga malam untuk salat tahajud seperti malam ini. Dalam
hal agama Hendi memang bukan orang awam. Bahkan semasa aliyah dulu ia sering
menjadi juara umum. Pastinya hal tersebut tidak akan terjadi jika pengetahuan
agamanya dangkal. Tetapi, kenapa ia masih saja mendekati dan mengganggu rumah
tangga Siti? Rupanya ilmu tidak cukup hanya diingat dan dipahami, tetapi juga
harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Siti termenung di atas
tempat tidur. Pikirannya membuncah tak keruan.
0 Response to "ANGIN KECIL"
Post a Comment