Senja di Jatinegara
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk
mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu
tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin
seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang
yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar
saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh
jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh
tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri
oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan
pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara
yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.
05.00
Sepi turun bersama embun
pagi yang mendarat di pinggiran kota Yogyakarta. Pagi hari selalu menjadi waktu yang tepat
bagi sepi untuk membunuhku secara perlahan. Tiada lagi suara berisik dari
dapur, atau suara Karlina yang berteriak minta dijemurkan baju. Dan meja makan
ini pun sama sepinya seperti aku. Ritual sarapan pagi di rumah bersama keluarga
menjadi rutinitas yang amat tidak mungkin bisa dilakukan.
Sepi ini perlahan
menjadi belati yang tiba-tiba mengoyak setiap sudut pertahanan kami (Aku dan
Bening). Sebagai lelaki yang telah dewasa aku masih bisa menyembunyikan
sakitku, menyembunyikan kerinduanku pada Karlina. Tapi tidak bagi Bening.
Semakin hari dia semakin terdera oleh kerinduan pada ibunya yang entah dimana
kini berada.
09.10
Aku
masih duduk di ruang tunggu stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Kereta api Senja
diundurkan jadwal pemberangkatannya. Aku tak peduli apapun alasanya. Aku pun
sudah tidak kaget dengan jam yang ngaret di
Indonesia, inilah salah satu fenomena buruk negeri ini. Tapi aku tak peduli,
aku hanya ingin cepat tiba di stasiun Jatinegara, Jakarta.
Kondisi
Bening juga semakin lemah. Matanya tak lagi bening, tirus wajahnya mulai tampak
jelas, raut mukanya yang pucat pasi menunjukan bahwa dia sakit, rambutnya yang
sepanjang bahu dikepang dua, menggelayut lemah diantara dua daun telingnya.
Bening anakku yang masih berumur 6 tahun, mestinya sekarang sedang berbaring
dalam pelukan hangat ibunya, bukan di ruang tunggu Stasiun Lempuyangan yang
panas dan sesak ini. Bukan pula bergumul dengan calo-calo dan teriakan petugas
stasiun dari pengeras suara yang memekakan telinga. Tangannya yang lemah masih
memeluk boneka doraemon, kucing yang memiliki kantong ajaib itu, tokoh kartun
kesukaan Bening.
Seminggu
yang lalu Bening sempat dirawat di rumah sakit, namun kata dokter kesehatannya
tak kunjung membaik.
“Mungkin
dia kangen sama ibunya, baiknya coba kau ajak dia ketemu ibunya”
Umi.
Entah
dimana sekarang Karlina berada. SMS, telfon, BBM, Path, Twitter, Line, We Chat.
Semua akses dia tutup. Tak ada surat atau pun e-mail. Setahu ku tau dia bekerja
di salah satu perusahaan asuransi di Jatinegara. Begitulah repotnya punya
isteri sebagai wanita karir, kalau saja dia bisa membagi waktu untuk kerja dan
keluarga mungkin tak sekeruh ini keadaanya. Tetapi dia tidak, dia tipikal
wanita yang workaholic. Dalam otaknya
hanya kerja, kerja, kerja, uang, uang, uang. Ya, itu saja, tidak lebih. Kabar
terakhir yang aku dengar dari omongan tetangga dia sedang dekat dengan manager di perusahaannya. Tak sedikitpun
aku mempercayai kabar ini. Pernah dulu ada e-mail masuk yang mengirim fotonya
bersama seorang lelaki, entah siapa. Aku thinking
positif saja mungkin saja foto ini
editan atau hanya sebatas rekan kerja saja.
Padahal
sebagai seorang suami aku sudah melarangnya. Namun tetap saja dia bersikeras
untuk bekerja dengan alasan meringankan bebanku. Aku juga menyadari
penghasilanku sebagai seorang guru honorer tak seberapa, meskipun punya
sampingan sebagai penulis lepas tapi tetap saja Karlina merasa kurang, apalagi
gaya hidupnya yang tinggi.
“Abang
terlalu mengekang isteri, saya juga perlu relasi, perlu mencari kebebasan”
makinya pada suatu hari. Aku lebih memilih diam. Dengan berat hati ku relakan
dia merantau di kota Jakarta, meninggalkan Bening, meninggalkan aku di rumah
kontrakan sederhana di Yogyakata.
Yogyakarta
– Jakarta. Jarak yang relatif dekat. Setiap saat ada kendaraan yang bisa
mengantarku kesana. Komunikasi juga berjalan lancar. Sesekali Karlina meneleponku,
biasanya menjelang tidur atau pulang kerja. Tapi keadaan ini tak berlangsung
lama. Lama-lama dia jarang menghubungi aku. Tiap kali aku menanyakan hal ini
alasannya selalu sibuk kerja. Malah aku yang dituding tak bisa memahami
posisinya.
“Abang
ngertiin dong, aku di sini lagi kerja bukan main. Yang namanya orang kerja
sibuklah ada nerima tamu, nemenin bos meeting, lagi banyak klien. Yang penting
tiap sebulan sekali aku ngasih uang buat jajan anak kita.” Suaranya di seberang
saat telfon dulu.
Dan
tut..tut.. tut.. tut telfon di
matikan tanpa pamit.
Untuk
yang kesekian kalinya aku harus mengalah lagi.
Beberapa
bulan lalu Bening pertama kali masuk TK. Hati ini serasa terkoyak tiap kali
melihat teman-teman seusianya di gandeng ibunya, sementara Bening biasanya aku
titipkan ke tetangga, atau aku yang mengantarnya ke sekolah jika tak ada jam
ngajar di pagi hari. Karlina dimanakah engkau sekarang?. Aku dan Bening
benar-benar butuh kehadiranmu.
“Para
penumpang kereta Senja jurusan Lempuyangan – Jatinegara di harapkan
bersiap-siap karena kereta akan segera berangkat” Suara petugas menyadarkanku
dari lamunan. Segera ku raih tas ransel dan ku gendong Bening yang ringkih.
Bening yang menyadari aku terburu-buru tersenyum lucu. Boneka doraemon nya
kurasakan menenpel di punggungku, di setiap ayunan langkahku yang setengah
berlari.
“Ayo
Abi cepet,, Bi cepet mau berangkat”
10.07
Kereta
pun merayap dengan malas di atas rel warisan kolonial. Sesekali berdecit
panjang yang membuat ku semakin masygul. Perlahan Stasiun Lempuyangan
menghilang dari jarak pandangku. Selebihnya yang tampak hanya sawah-sawah
kering yang membuatku bosan persis seperti perasaanku yang bosan pada keadaan
ini.
Bening
aku lihat keadaannya mulai membaik, sedari tadi dia sibuk memandang hamparan
sawah dari balik kaca. Sesekali kepalanya di gerakkan ke kanan atau ke kiri
seolah-olah mencoba menangkap suatu yang aneh baginya sambil jari-jari
mungilnya menunjuk-nunjuk. Rambutnya yang lurus sebahu di biarkan terurai tak beraturan. Haa... Bening Bening. Lucunya
anakku.
Aku
tak pernah membayangkan bagaimana jika kabar dia selingkuh dengan managernya
itu benar, dan dia akan secepatya minta cerai, meninggalkan aku dan Bening. Astaghfirullah segera ku tepis jauh-jauh
pikiran ini. Karlina tak mungkin seperti itu. Tak mungkin.
“Bi..
Umi jarang telfon sekarang?”. Tanya Bening mengagetkanku.
Aku
kebingungan menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada gadis kecilku ini.
“E,,
Umi ‘kan lagi sibuk kerja sekarang jadi belum sempat ngasih kabar”
“Umi
kerja apa Bi? kabarnya bagaimana ya? Udah tau belum Bi kalau kita mau maen?”. “Bening juga mau pamer boneka
doraemon, nanti kalau sudah ketemu Umi, kita pakai baling-baling bambu,
keliling Jakarta” Bening menyeringai sambil memeragakan terbang dengan
baling-baling bambu ala doraemon. Pertanyaan-pertanyaannya yang lembut
menghujam jantung hatiku. Menggetarkan hati seorang Abi yang menginginkan
adanya kebahagiaan dalam rumah tangganya, menggetarkan hati seorang kepala
rumah tangga yang semestinya bisa menyatukan keluarganya dalam satu atap, satu
rumah.
Aku
hanya tersenyum getir.
Aku
mengutuk diri sendiri, harusnya aku tak mengijinkan Karlina pergi. Tanggung
jawabku sebagai seorang suami serasa belum sempurna jika tak mampu menyatukan
aku, Karlina, dan Bening dalam satu kapal yang bernama bahtera rumah tangga.
Sakinah, Mawaddah, Wa Rakhmah. Entahlah.
Sepotong
roti coklat kesukaan Bening yang aku beli ternyata mampu menutup mulut Bening sesaat
agar tak lagi bertanya tentang Umi nya.
Aku
hanya diam mengunci bibirku, ku rasakan mata ini mengeluarkan butiran bening
yang sejak tadi aku tahan.
Bening
tampaknya mulai lelah, di rebahkannya kepalanya di atas pangkuanku. Sentuhan
rambut bening di atas lenganku membuat air mata ini semakin deras mengalir.
“Entah mengapa aku merasa kita akan benar-benar berpisah karlina.” Gumamku
pelan, bahkan hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri.
17.20
Kereta
Senja tiba di Stasiun Jatinegara ketika senja mulai turun di langit Jakarta. Ku
teguk air mineral yang tinggal sedikit lagi. Tangan kanan Bening menarik-narik
tanganku dengan semangat, tangan kirinya mengayun-ayunkan boneka doraemon
dengan manja. Sepertinya dia begitu berhasrat bertemu ibunya.
“Bi..
Cepet ikh, Umi nungguin...!”
“Iya
sayang sabar dikit dong.”
Aku
tak tau harus mencari Karlina dimana, yang aku tau dia bekerja di dekat stasiun
ini. Beruntung aku bertemu dengan abang bajai yang siap mengantar kita.
Sepanjang perjalanan aku mencoba menyusun kata-kata untuk memarahi Karlina. Atau
mungkin aku bersikap baik-baik saja, mengajak dia makan malam sambil
menasihatinya baik-baik. Akh, aku terlalu berlebihan. Yang paling penting
Bening ketemu dulu sama ibunya.
Baru
sepersekian detik kaki ini turun dari bajai. Aku dikagetkan dengan pemandangan
yang asing bagiku. Ketika ku lirik iseteriku di seberang jalan sana. Penampilan
Karlina jauh berbeda. Kini dia tak lagi berhijab, rambutnya di potong pendek
khas wanita karir, dia tampak anggun dengan blazer warna hijau toska. Tapi aku
lebih kaget ketika dia sedang menyuapi seorang lelaki yang sama persis dengan
di foto itu waktu dulu. Andai saja aku tak bersama Bening mungkin emosiku sudah
meledak.
Bening
tak menyadarinya, ku minta kendaran roda tiga itu kembali ke stasiun. Aku tak
bergeming ketika Bening terus merengek-rengek. Menarik jaketku. Memukul-mukul
dengan lemah badanku.
“Abi...
Bening mau ketemu Umi. Pokoknya gak
mau pulang sebelum ketemu Umi. Titik”. Dilemparkannya boneka doraemon itu ke
tengah jalan, dan terlindas mobil pengangkut sampah.
Senja
telah sempurna pada langit-langit kota Jakarta. Aku masih berdiri mematung di
antara riuhnya orang yang berlalu lalang di stasiun ini. Sudah sempurna sakit
ini. Semua cinta dan kenangan terkubur karena satu kesalahan. Kesetiaan yang
selama ini kau janjikan ternyata tak sepenuhnya kau pertahankan. Rumah tangga
ini benar-benar telah limbung dan anakku Bening, aku tak tahu bagaimana nasib
Bening.
Ku
tinggalkan cintamu Karlina dalam remang lampu stasiun Jatinegara. Aku perlahan
menyeret Bening yang memegang kakiku erat. Menyeretnya tabah ke dalam sepi yang
nyata di depan mata.
Azat
Al-Hidayat, 2020
Keren kak cerpennya
ReplyDeleteKeren kak cerpennya
ReplyDelete