Masa Lalu - SEMUA TENTANG PENDIDIKAN, BAHASA, DAN SASTRA INDONESIA

Masa Lalu

Bagaimana pun juga ia pernah menjadi bagian dalam hidupku, menjadi segalanya bagiku, mengisi lembaran masa laluku, menjadi peraduan hatiku, serta menjadi altar tempat aku menyenandungkan balada tentang kehidupanku, suka maupun duka. Kami pernah saling memintal rasa. Menangis dan tertawa menuangkan segala macam cerita yang terendap di dalam lubuk jiwa. Kami pernah mengarungi masa, menavigasi renjana, menyusuri lembah dan bukit cinta, serta menaklukkan gelombang dahsyat bernama problematika. Oleh sebab itu, hatiku akan ikut merasakan perih manakala hatinya dihinggapi lara.

Taman kota Majalengka tengah dinaungi terik yang demikian hebat. Mentari tengah perkasa bersemayam di atas singgasananya; seolah menyeringai menampakkan taring-taringnya yang tajam serta berapi. Namun, seorang gadis seakan tidak peduli dan tidak merasakannya. Ia duduk seorang diri di atas sebuah bangku berbahan semen yang tertanam di tepi taman tersebut. Dialah Fani, gadis yang pernah mengisi lima tahunku sebelum aku bertemu dengan tahun ini.

Dari rautnya yang sendu, aku dapat menangkap bahwa perasaannya tengah dikunjungi nestapa. Terbit sebuah keinginan untuk menghampiri dan mengesat pilu yang tengah melumuri hatinya. Namun tangan Astri, kekasihku, yang tengah bergelendot manja pada lenganku menahan dan mengurungkan niatku.

“Ayo, A, katanya kita mau pulang…” rajuknya.

Aku menatapnya, lalu kami pun menyeberang jalan, menghentikan Angkot kemudian menaikinya.

Akan tetapi, sepanjang perjalanan ingatanku menerawang jauh. Aku tidak dapat menepis wajah Fani yang sendu itu dari ingatanku. Perkataan-perkataan Astri pun hanya sedikit saja yang dapat kutangkap, bahkan suaranya seakan timbul dan tenggelam.

Terkenang kembali segala apa yang pernah aku dan Fani lewati selama lima tahun kami bersama. Ya, lima tahun. Bayangkan, sudah sedalam apa akar cintaku kepadanya menghunjam ke dasar hatiku setelah disirami dan dipupuki oleh masa, cinta, kehangatan, kasih sayang serta perhatian.

Sungguh sangat menyakitkan, hubungan kami harus berakhir hanya karena sebuah keadaan yang tidak bisa kami tolak dan kami ubah. Tangan kami terlalu lemah dan kecil untuk merubahnya.

“Mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita, agar kamu bisa lebih total mengejar impianmu dan aku pun bisa lebih tenang menjalani kehidupanku.” desahnya di suatu senja bertudung lembayung, di tepi sebuah danau setelah kami saling mengutarakan tentang rencana kami untuk esok hari.

Aku hanya tertegun dengan berkecamuk berbagai rasa. Sesal, sedih, dan perih; semua berkelindan di dalam hatiku. Ingin rasanya aku meratap dan memaki keadaan. Namun aku sadar, hal tersebut tidak akan merubah apa pun. Dan aku pun tahu, Tuhan tidak pernah salah dalam membuat skenario kehidupan. Maka, yang bisa aku lakukan hanyalah tetap termangu sembari memandang pekatnya rasa sesal.

Kami saling terhening beberapa saat. Hanya suara embusan napas kami yang penuh beban saja yang lamat-lamat tertangkap telinga. Sementara itu, awan mendung semakin berat menggayuti langit, dan siap menumpahkan segenap air hujan yang dikandungnya. Sesekali kawanan burung hutan terbang melintasi langit sembari bercericit, mencoba menembus keheningan yang kami ciptakan.

“Bukan karena aku telah berhenti mencintaimu, tetapi, semua ini demi kebaikan kita berdua. Sebab, dipaksakan pun percuma, hasilnya tidak akan sama dengan yang kita harapkan.” imbuhnya.

Dadaku terasa sesak sehingga mulutku tak mampu untuk berucap.

“Impianmu terlalu tinggi. Sementara aku tak butuh mimpi. Aku merasa puas hidup dengan kasih sayang yang tulus dan cinta yang suci. Aku tidak peduli kamu siapa, apa pekerjaanmu dan berapa penghasilanmu.” sambungnya.

Aku tetap terbisu mengulum getir yang kurasakan. Betapa perih hatiku menelan kenyataan pahit lagi berduri ini. Aku baru sadar bahwa ternyata tempat tujuan kami terlampau jauh berbeda. Aku adalah seorang lelaki yang ingin hidup gilang gemilang dan bertabur kesuksesan. Sementara Fani adalah seorang perempuan yang merasa puas, cukup, dan senang, hidup dalam kesederhanaan. Baginya ketulusan cinta jauh lebih menarik ketimbang emas permata. Tetapi, bukankah kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta? Kita juga butuh harta. Di samping dunia cinta yang indah dan penuh angan-angan itu ada sebuah dunia yang getir, menyeramkan, tidak bisa diindahkan dan diremehkan begitu saja. Itulah dunia nyata. Dan memang di dunia itulah kita hidup. Sudah banyak contohnya sepasang suami istri yang bercerai karena permasalahan harta.

Seharusnya ia menyadari bahwa pangkal dari segala alasanku menempuh jalan ini adalah dirinya. Ya, dirinya. Semua demi dia. Namun agaknya ia telah terkalahkan oleh ketakutan dan ketidaksabarannya. Aku dapat memahami hal itu. Sebab usianya kini telah berada di ambang kekhawatiran tentang masa depan serta pendamping hidup. 27 tahun jelas bukanlah usia yang menenangkan bagi seorang perempuan lajang sepertinya.

“Tapi semua yang aku lakukan ini demi kamu, Fan, karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin setelah menikah nanti kita hidup sengsara.” protesku.

“Kalau kamu memang mencintaiku, nikahilah aku sekarang. Tidak perlu menunggu hingga sukses. Bukankah kita tidak pernah tahu kapan kita akan sukses? Bagaimana kalau kesuksesanmu baru bisa diraih sepuluh atau dua puluh tahun kemudian? Kapan kamu akan menikahiku? Aku tidak perlu kesuksesan ataupun nama besarmu. Yang aku perlukan hanyalah dirimu, cintamu, kasih sayang, perhatian serta kesetiaanmu.”

Untuk yang kesekian kalinya kami kembali terhening.

“Tahukah kamu apa yang dilakukan para lelaki terhadap wanita setelah mereka mendapatkan kesuksesannya?” tanya Fani, memutus keheningan di antara kami.

Aku terdiam karena merasa tidak perlu menjawabnya. Aku ingat, suatu malam, di bawah bintang-gemintang, kami pernah duduk berdampingan. Kemudian ia bercerita tentang ayahnya yang tergoda oleh seorang perempuan di saat tengah berjaya. Barangkali itulah yang membuat ia tidak terlalu tertarik oleh sesuatu yang bernama harta.

Fani menatapku, dan kami pun bersitatap. Agaknya ia tahu apa yang tengah kupikirkan.

“A… A Yoga…!”

Tiba-tiba saja suara Astri membuyarkan lamunanku. Aku terperanjat. “Eh, iya, As…”

“Sudah sampai. Ayo kita turun!” ujarnya.

Maka, kami pun turun dari Angkot, membayar ongkos, lalu berjalan ke gang yang menuju rumahnya.

***

KENDATI hubunganku dengan Fani telah berakhir sekitar enam bulan lalu, namun aku tidak pernah membuang segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Aku tetap menyimpan segala pemberiannya meskipun hal tersebut dapat membangkitkan kenangan tentang kami berdua. Kubiarkan segala sesuatu tentangnya tetap utuh bersemayam di dalam ingatanku. Walaupun hal tersebut terasa nyeri menusuk ulu hati, tetapi aku sangat menikmatinya.

Aku tidak pernah membakar foto-foto kami berdua. Fotonya yang terpampang di facebook-ku pun tetap utuh dan tidak ada satu pun yang kuhapus. Bahkan di balik foto Astri di dalam dompetku, aku masih menyimpan foto mesra kami berdua. Namun jangan pernah berpikir bahwa aku adalah lelaki culas karena telah melakukan hal tersebut, semua karena cintaku kepada Fani belum tandas. Bahkan tidak berkurang sedikit pun.

Namanya terukir indah di dalam hatiku, dan senantiasa terngiang di jiwaku. Membuat aku sangat sulit untuk melupakannya. Tidak jarang mulutku salah menyebut nama, yaitu dengan menyebut nama Fani untuk memanggil orang lain. Seperti apa yang terjadi siang itu, saat aku dan Astri berkencan di sebuah kedai bakso yang ada di dalam sebuah mal. Tanpa sengaja mulutku menyebut nama Fani untuk memanggil Astri. Tentu saja hal tersebut membuat Astri merajuk kepadaku.

“Siapa Fani? Mantan pacar Aa, ya?! Jadi Aa masih ingat sama mantan pacar Aa?!” desisnya sambil menatap nyalang.

Dan, terpaksa aku berdusta untuk menghindarkan pertengkaran yang kian menjadi. “Bukan. Dia teman kuliahku.” sanggahku sambil berusaha untuk tetap tenang.

Astri hanya terdiam sambil menatapku. Namun jelas ia tengah mengerami perasaan curiga.

***

DAN, benar kata pepatah, bahwa sebaik apa pun menyembunyikan bangkai, suatu saat pasti busuknya akan tercium. Itulah yang terjadi kepadaku. Akhirnya Astri mengetahui siapa Fani. Lebih dari itu, ia pun tahu bahwa aku masih mencintai Fani. Peristiwa itu terjadi di suatu malam minggu, saat aku dengannya berjalan-jalan di alun-alun kota Majalengka. Karena kecapaian, kami merapat ke sebuah warung di pojok alun-alun tersebut demi membeli air mineral. Sementara aku membeli air mineral, Astri berdiri sekitar satu meter di belakangku, sehingga tidak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah pacarku.

Dan, itulah gerbang petaka itu. Tiba-tiba saja seorang teman lamaku menghampiriku dan langsung menepuk bahuku. Namanya Deni. Ia adalah sahabat karibku semasa SMA. Bahkan dialah Mak comblang yang menyatukan aku dengan Fani. Namun karena dia bekerja di luar kota, kami menjadi sangat jarang bertemu, bahkan tidak pernah. Saat reuni SMA pun dia tidak datang.

“Yoga?!” serunya dengan raut bahagia.

Aku menoleh. “Deni!” sahutku, sama bahagianya.

Kami bersalaman, lantas berpelukan sembari saling menepuk punggung. Hampir tujuh tahun kami tidak bertemu. Dan hampir tiga tahun kami kehilangan komunikasi. Wajar bila kami merasa sangat bahagia.

“Gimana kabar lu?” tanyanya.

“Baik. Lu sendiri?” tanyaku sambil melepaskan pelukan kami.

“Baik juga.” sahutnya. “Malam minggu gini lu sendirian saja, Fani-nya mana, kok nggak ikut? Padahal dulu kalian selalu bersama. Ke mana pun kalian pergi pasti berdua.”

Aku terenyak. Lalu menatap Astri dengan tatapan tidak enak. Di detik yang sama, Astri pun menatapku. Dan untuk beberapa saat kami saling tatap dengan mulut terbisu. Melalui tatapannya, seolah aku dapat mendengar apa yang digumamkan hatinya, “OH… jadi begitu?!” Kurang lebih seperti itulah hatinya berkata.

Sejurus kemudian, ia berpaling, lalu meninggalkanku. Sementara aku hanya tertegun sembari menatap langkahnya. Dan sejak saat itu, ia tidak pernah lagi sudi menampakkan wajahnya di hadapanku.

***

PERPISAHANKU dengan Astri tidak sedikit pun menorehkan penyesalan di dalam hatiku. Aku tidak pernah tertunduk merenunginya, apalagi meratapinya. Semua terasa ringan, dan kemudian menghilang begitu saja seperti debu yang tertiup angin.

Dan, tatkala aku terpuruk dalam kesendirian, aku semakin menyadari siapa yang perkasa bersemayam di dalam hatiku. Dialah Fani. Seorang gadis berwajah damai, bertatap teduh, bersenyum hangat, dan berperangai lembut.

Sungguh, aku sangat merindukannya. Rindu wajah orientalnya, rindu suara manjanya, rindu dagu landainya, rindu bibir tipis merah delimanya, serta rindu rambut hitamnya. Aku rindu duduk berdampingan dengannya, sementara aku bermain gitar, dia bersenandung merdu. Aku rindu telentang di atas rumput bersamanya, memandangi bintang-bintang yang berserakan di langit.

Dan, demi mengurangi perasaan rinduku, di suatu sore yang cerah, aku pergi ke sebuah tempat yang biasa kami kunjungi. Yaitu sebuah taman yang ada di sudut kota Majalengka. Di tengah taman tersebut terdapat sebuah danau yang berair jernih. Terkadang kami pergi ke sana untuk sekadar duduk di atas sebuah bangku sembari memandangi air danau yang tenang atau sepasang angsa yang berenang. Terkadang kami duduk berdampingan, menyandarkan punggung pada sebatang pohon pinus sembari bernyanyi bersama. Terkadang ia duduk di sampingku, merebahkan kepalanya di atas bahuku, sementara aku membelai rambutnya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.

Aku berjalan menuju danau, dan tertegun saat mendapati seorang gadis berambut lurus sebahu tengah duduk di atas sebuah bangku berpelitur cokelat yang biasa aku dan Fani duduki. Sebidang punggung kurus yang tidak kukenal. Perawakannya memang sedikit mirip dengan Fani, tetapi punggungnya terlalu kurus untuk punggung Fani. Siapa gadis ini? Tanyaku dalam hati. Namun saat aku memandang celana jin yang ia kenakan, aku dapat mengenalinya. Tidak salah lagi, dia memang Fani. Celana itu adalah celana pemberianku di hari ulang tahunnya.

Jantungku berdegup kencang, dan jiwaku bergemuruh. Ada perasaan bahagia bercampur haru yang merasuk ke dalam hatiku mendapati ia mengenakan celana pemberianku. Terlebih ia duduk di tempat yang biasa kami duduki. Mungkin ia pun sama denganku, ingin mengenang masa-masa indah saat kami bersama.

Maka, dengan penuh antusias aku pun memacu langkah demi menghampirinya. Akan tetapi, langkahku terhenti saat tiba-tiba saja seorang lelaki muncul, berdiri di sampingnya, lalu menggenggam jemarinya. Fani menoleh kepadanya sambil tersenyum. Lembut, tetapi tidak selembut manakala ia tersenyum kepadaku. Aku yakin, senyuman terlembutnya masih tersimpan dan diperuntukkan untukku. Sebagaimana hatinya yang masih menyimpan kenangan bersamaku.

Aku pun urung mendekatinya, kemudian berpaling, dan melangkah pulang dengan wajah tertunduk.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masa Lalu"

Post a Comment