CINTA UNTUK PRIMADONA
Namanya Inah, tetapi jangan sembarangan ataupun menyepelekannya. Meskipun namanya terbilang norak, namun kecantikannya luar biasa. Tentu kau tahu tokoh Rumana yang diperankan Citra Kirana di dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji? Nah, seperti itulah dia. Baik wajah, penampilan, ataupun karakternya benar-benar mirip. Sungguh, aku tidak mengada-ada. Jika melihat Rumana, aku pasti ingat dia. Begitu juga sebaliknya, jika melihat dia, aku pasti ingat Rumana.
Awalnya aku menyangka
ayahnya adalah seorang bandar tebu sebab senyumnya begitu manis. Dan
kemanisannya disempurnakan oleh lesung pipit yang terlekuk setiap kali ia
tersenyum. Sungguh, aku takut terkena diabetes jika lama-lama dekat dengannya.
Namun ternyata aku keliru, ayahnya bekerja di kantor kelurahan.
Aku pun sempat
menyangka ibunya berjualan payung sebab tatapannya begitu teduh. Dan jika
menatapnya, aku tidak takut terkena terik mentari ataupun diguyur hujan. Namun,
lagi-lagi aku keliru, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.
Bila ditanya kapan
pertama kali kami bertemu, maka jawabannya adalah setahun yang lalu; di sebuah
Rabu yang indah, ketika pembagian kelompok ospek, sehari sebelum ospek dimulai.
Dan, saat itu kami satu kelompok.
Semua orang setuju
untuk mengatakan ia adalah perempuan tercantik di kelompokku. Tak heran jika
semua lelaki di kelompokku berlomba-lomba untuk mendekatinya. Dan yang menambah
daya tariknya adalah: kecantikannya tidak hanya ada pada wajahnya, tetapi juga
pada hatinya. Dia gadis yang baik, ramah dan bersahaja. Kombinasi yang sangat
sempurna antara kecantikan jasmani dan rohani. Membuat semua orang takjub
kepadanya, tidak terkecuali aku. Dan kalau boleh jujur, dia lebih baik dalam
segala hal dari mantan pacarku yang sejauh ini selalu kuanggap wanita paling
menakjubkan yang pernah ada.
Aku ingat pertama kali
melihatnya. Dan rasanya hal tersebut akan selalu kuingat sepanjang hidupku. Ia
menatapku dengan tatapan dalam dan hati-hati, seperti ingin menerawang
pribadiku dan mengorek karakterku, memberikan kesan bahwa tidak sembarang
lelaki bisa mendekatinya. Hanya mereka yang berhati baik saja yang bisa
mendekatinya. Dan ketika hubungan kami semakin dekat, aku lebih sering
mendapati tatapan seperti itu pada matanya; seolah bertanya, “Siapa kamu? Dan
apa maksudmu mendekatiku?”
Yang sampai saat ini
tak kumengerti adalah: entah kenapa sejak pertama melihatnya aku langsung
merasa dekat dan sangat mengenalnya sebagaimana aku mengenal diriku sendiri.
Segala karakternya seakan telanjang di hadapanku. Begitu jelas, seperti melihat
sirop di gelas bening.
Saat itu, ia masuk ke
sebuah ruangan di mana aku pun berada di sana. Suasana yang sebelumnya gaduh
mendadak senyap. Aku yakin semua orang, terutama para lelaki, terkesiap oleh
kecantikannya. Adapun aku yang tengah bersandar ke dinding di dekat pintu,
meliriknya sekilas, dan secara kebetulan ia pun menatapku hingga tatapan kami
bersirobok, lalu aku berpura-pura tak acuh. Namun sebenarnya batinku
bergemuruh.
“Ini kelompok 43 ya,
A?” tanyanya malu-malu.
Aku kembali menatapnya.
“Iya,” sahutku.
Lalu kami pun
berkenalan.
***
Apakah kau juga ingin tahu bagaimana
awalnya kami bisa menjadi sangat dekat? Baiklah, akan kuceritakan.
Tak seperti kebanyakan
lelaki, yang mendekatinya karena ada maunya, aku mendekatinya lebih ikhlas dan
dengan perasaan nothing to loose.
Meskipun sebagai lelaki normal hasrat untuk memilikinya jelas ada, tetapi
sebisa mungkin aku meredamnya. Aku cukup tahu diri untuk menjadikannya pacar.
Kecantikannya tak dapat dibantah oleh siapa pun. Sembilan, atau bahkan mungkin
sepuluh, dari sepuluh responden akan sepakat untuk mengatakan ia cantik.
Sementara, mungkin hanya enam atau tujuh saja yang mengatakan aku tampan.
Hari pertama ospek, aku
datang agak terlambat. Semua orang sudah berbaris di dalam kelompoknya
masing-masing. Para petugas upacara hampir selesai melakukan geladi resik. Dan
itu berarti upacara pembukaan akan segera dimulai.
Aku menyeberang jalan,
berlari menuju gerbang, lalu celingukan mencari kelompokku. Bukan hal yang
mudah untuk mencari orang-orang asing di antara ribuan orang yang berpakaian
sama, yakni kemeja putih dan celana hitam. Adapun bendera yang dipegang para
ketua kelompok sebagai identitas kelompoknya masing-masing, tak dapat kulihat
dengan jelas karena berada jauh di depan dan membelakangiku. Beruntung ada
seorang yang kukenal dari kelompokku menengok kepadaku.
“Hai, sini!” serunya
sambil melambaikan tangan.
Oh, di sana, gumamku
dalam hati.
Aku pun menghampirinya,
lantas menyelinap ke dalam kelompokku. Aku berhenti dan berbaris di belakang
seorang wanita. Entah apa yang membuatku ingin berhenti dan memilih tempat
tersebut. Meskipun di sampingku ada seorang teman yang kemarin telah berkenalan
dan cukup dekat denganku, tetapi rasanya ada alasan lain yang membuat aku ingin
berdiri di sana.
Teman-teman
sekelompokku mengolok-olok penampilanku. Padahal penampilan mereka pun tidak
kalah lucu dariku. Memakai peci hitam, dasi kupu-kupu, menggendong tas karung
terigu, dan menyandang papan nama berbahan karton bertali pita dengan warna
yang disesuaikan dengan jurusan masing-masing. Kemarin aku memang cukup konyol,
karena itulah mereka tak canggung lagi kepadaku.
Mendengar kegaduhan di
belakang, wanita di depanku menoleh. Dan, aku benar-benar tidak menyangka jika
itu adalah si gadis jelita, Inah. Mendapati aku berdiri di belakangnya, ia
tersipu. Sekilas kami bersitatap. Dan di detik tersebut alam semesta terasa
hening, hanya ada kami berdua.
“Baru datang, A?”
tanyanya sambil tersenyum.
Ya Tuhan… hatiku terasa
rontok. Jiwaku bergemuruh hebat seumpama ombak di lautan. Senyumnya jauh lebih
indah ketimbang bianglala. Sudah lama aku tidak melihat senyuman seindah itu,
tepatnya sejak aku putus dengan pacarku setahun yang lalu.
“Iya.” sahutku berusaha
tetap tenang.
Ia melirik kertas
karton di dadaku, lalu tersenyum. Untuk yang satu ini aku tidak tahu persis apa
artinya.
Selain identitas, di
kertas karton tersebut terpampang pula foto narsisku seperti instruksi senior
kemarin. Itu adalah foto ternarsis dan terkerenku. Dalam foto itu aku memakai
kacamata hitam, switer hitam, dan syal melingkar di leher, juga berwarna hitam.
Kepalaku sedikit mendongak ke kiri atas, sementara kedua tanganku bersidekap.
Sungguh keren. Seperti pose foto model profesional. Jangan tertawa jika aku
berkata penampilanku seperti bintang film Korea. Barangkali itulah yang membuat
Inah tersenyum.
Aku balas menatapnya,
tetapi tak kudapati kertas karton di dadanya. Tentu saja aku jadi penasaran.
Secantik apa ia di dalam foto?
“Papan namamu mana,
Neng?” tanyaku.
“Talinya nggak ada, A.”
sahutnya terus terang.
“Apa warnanya?”
“Abu-abu.”
Aku berpikir sejenak,
kemudian menoleh ke kiri dan kanan mencari orang-orang yang tali papan namanya
berwarna abu-abu. Lalu kudatangi mereka satu-satu sambil menanyakan barangkali
ada tali yang tersisa. Sementara itu, Inah hanya memerhatikanku. Setelah
melantas kesana-kemari, akhirnya aku mendapatkan pita tersebut. Lalu kuberikan
kepadanya.
“Terima kasih, A.”
ucapnya sambil tersenyum semringah.
“Sama-sama.” sahutku.
Ia pun memasang papan
namanya. Dan, jangan tanyakan seperti apa fotonya, sebab cantik bukan buatan.
***
Hari kedua ospek.
Aku tinggal di sebuah
kota kecil yang memiliki makanan khas bernama jalakotek. Rasanya renyah.
Bentuknya mirip pastel. Terbuat dari aci dan tepung. Berisi irisan tahu, wortel
serta kentang. Dan, ternyata jalakotek sudah terkenal hingga luar kabupaten,
karena itulah seorang temanku dari luar kabupaten meminta aku membawanya.
Namun karena dompetku
sedang tipis, aku membeli jalakotek hanya sedikit. Sebenarnya aku malu kepada
teman-temanku, tapi mau bagaimana lagi? Mengebon kepada pedagang jalakotek
pasti akan tercatat dalam sejarah peradaban manusia sepanjang masa.
Lalu, saat di gedung
auditorium, aku pun membagikan jalakotek tersebut kepada teman-temanku. Sudah
barang tentu tidak semuanya kebagian.
Entah kenapa tiba-tiba
saja aku berpikir Inah tak boleh dilupakan, bahkan harus kuutamakan. Karena
itu, tak boleh tidak, ia harus kebagian. Maka, aku pun menoleh jauh ke belakang
karena memang ia duduk di sana. Jika melihat dari sifatnya yang pemalu dan kebiasaannya
yang suka duduk di belakang, aku sering berpikir ia membutuhkan lelaki bertipe
pimbimbing, seperti aku. Mungkin kami memang cocok. Karakter kami saling
melengkapi. Aku bertipe ofensif, sementara dia bertipe defensif. Tetapi,
entahlah… Lalu aku pun menghampirinya.
“Neng, mau?” tanyaku
sambil menyodorkan kantong kresek berisi jalakotek.
Ia mengambil sebuah.
Setelah itu, aku pun kembali ke tempatku.
Sesekali aku menoleh ke
belakang demi menatapnya. Ia tampak sangat menikmati jalakotek tersebut. Dan aku
punya ide untuk menjadikan jalakotek sebagai alasan jika suatu saat nanti ingin
bertemu dengannya. Bahkan aku berjanji jika kelak menjadi sutradara, aku akan
membuat film yang berjudul ‘Cintaku Bersemi Dari Jalakotek’.
***
Perlu menunggu beberapa bulan untuk
kembali bertemu dengannya. Rasa rinduku sudah menggebu dan membongkah di dalam
buluh nadiku. Fakultas dan jadwal kuliah kami yang berbeda membuat kami sangat
sulit untuk bertemu. Aku adalah mahasiswa jurusan Sastra Indonesia yang
menempati kampus 1, sedangkan ia mahasiswi jurusan PGSD yang menempati kampus 2
di seberang jalan. Oleh sebab itu, usai ospek kami tak pernah bertemu.
Seperti yang telah
kukatakan sebelumnya, aku akan menjadikan jalakotek sebagai alasan untuk
bertemu dengannya. Maka, suatu ketika aku meng-SMS-nya dan menanyakan apakah ia
ingin jalakotek.
Sebenarnya aku tidak
menaruh harapan yang besar ia akan menjawab iya. Namun ternyata manusia tak
boleh berputus asa dan berkecil hati. Di luar dugaan, ia menjawab iya dan
bersedia menemuiku di tempat yang kami sepakati. Maka, kami pun bertemu di
tempat tersebut.
“Terima kasih
jalakoteknya, A, udah lama Neng pengen jalakotek.” katanya.
Rasanya aku bersedia
menjadi pedagang jalakotek agar setiap hari bisa bertemu dengannya. Dan
gerobakku akan kuberi nama ‘Jalakotek Cinta’ supaya ia tahu tentang perasaanku.
Setelah itu, aku
benar-benar selalu menjadikan jalakotek sebagai alasan untuk bertemu dengannya.
Tetapi aku sadar hal tersebut tidak boleh terlalu sering kulakukan sebab takut
ia akan bosan. Lagi pula, ia pernah berkata bahwa ia merasa tidak enak sering
diberi jalakotek olehku.
“Neng nggak enak sering
diberi jalakotek oleh Aa.” ujarnya suatu ketika.
“Nggak apa-apa, Neng,
cuma jalakotek. Kalau Neng mau, penjualnya pun akan Aa bawakan.” sahutku gombal.
Ia tersipu.
Dan ketika kuceritakan
tentang kisahku kepada teman-temanku, mereka tertawa geli. Namun di sisi lain
mereka merasa salut. Di saat kebanyakan lelaki membawakan sesuatu yang mahal
dan berkilau untuk wanita idamannya, aku hanya membawakan makanan yang harga
satuannya lima ratus rupiah.
Terkadang aku tertawa
sendiri membayangkan jika suatu saat nanti kami menikah dan melihat jalakotek.
Tak terbayang olehku bagaimana keharuan dan ketakziman kami terhadap makanan
murah tetapi enak dan mengandung historis tersebut.
Dan aku berharap semoga
dia adalah wanita yang tertulis untuk menjadi pendamping hidupku. Amin…
0 Response to "CINTA UNTUK PRIMADONA"
Post a Comment