ANALISIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA AA. NAVIS - SEMUA TENTANG PENDIDIKAN, BAHASA, DAN SASTRA INDONESIA

ANALISIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA AA. NAVIS



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah karya sastra. Dengan membaca karya sastra kita akan memperoleh sesuatu yang dapat memperkaya wawasan dan atau meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Karya sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai atau value. Nilai-nilai itu dikemas dalam wujud stuktur karya sastra yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema dan amanat. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra antara lain :
1.      Nilai hedonik ( Hedonic value)
2.      Nilai artistik ( artistic value)
3.      Nilai kultural (cultural value)
4.      Nilai etis, moral, agama ( ethical, moral, religious value)
5.      Nilai praktis (practical value)
Begitu pula dalam sastra prosa. Novel dan cerpen yang baik mengandung nilai-nilai kehidupan. Nilai itu dapat kita pahami melalui kegiatan mengapresiasi karya sastra novel dan cerpen. Di dalam cerpen terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema dan amanat atau yang sering disebut unsur instrinsik.
Dari permasalahan di atas, penulis mencoba mengangkat sebuah cerpen yang cukup fenomenal berjudul “Robohnya Surau Kami” karya A.A Nafis. Dengan maksud supaya kita dapat mengapresiasi cerpen tersebut melalui analisis unsur yang terkandung di dalamnya.
1.2    Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dimaksudkan agar masalah menjadi lebih jelas dan tidak melebar sehingga membantu memudahkan dalam pemecahan. Adapun masalah yang akan di analisis adalah :
1.      Apakah pengertian apresiasi karya sastra itu?
2.      Apakah pengertian cerpen itu?
3.      Apa yang dimaksud dengan unsur instrinsik dan bagaimana unsur instrinsik yang terkandung dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”?
1.3    Tujuan
Tujuan penulis menyusun makalah ini adalah :
1.      Meningkatkan apresiasi karya sastra terutama cerpen
2.      Memahami pengertian apresiasi karya sastra
3.      Memahami pengertian cerpen
4.      Memahami unsur instrinsik yang terkandug dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Apresiasi karya sastra
            Kata apresiasi berawal dari bahasa latin apreciatio yang artinya “mengindahkan” atau “menghargai”. Menurut Gove apresiasi bermkna pengenalan melalui perasaan batin dan pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.
             S.Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menimbulkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
            Di dalam karya sastra terdapat unsur yang kompleks antara lain :
1.      Unsur keindahan
2.      Unsure kontemplatif yang berhubungan dengan nilai tentang keagamaan, filsafat serta berbagai macam kompleksitas permasalahan kehidupan.
3.      Media pemaparan
4.      Unsur-unsur instrinsik
Sehubungan dengan kandungan empat aspek diatas, maka seorang  apresiator  harus memiliki bekal awal dalam mengapresiasi karya sastra, diantaranya :
1.      Kepekaan emosi
2.      Pemilikan pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kehidupan
3.      Pemahaman terhadap aspek kebahasaan
4.      Pemahaman terhadap unsur instrinsik

2.2 Pengertian cerpen
Cerpen merupakan fiksi yang selesai dibaca sekali duduk. Dalam artian sebuah kesan di dalam cerpen dapat ditemukan dalam sekali baca. ( Alam dan Mien Rumini, 1996: 1 ) mengatakan cerpen adalah cerita yang pada hakikatnya merupakan salah satu wujud pernyataan seni yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Pernyataan ini seirama dengan ( Esten, 1978: 12 ) cerpen merupakan pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Maksudnya, cerita dalam cerpen hanyalah sebagian kecil penggalan hidup manusia. Berbeda dengan roman yang menceritakan dari awal kehidupan hingga akhir hayat tokoh-tokohnya.
2.3 Unsur instrinsik dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis

  1. Tema
Tema adalah pokok pikiran yang dicetuskan pengarang yang menjadi jiwa dan dasar cerita. Tema dibedakan menjadi dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah tema yang merupakan pusat pikiran sebuah cerita atau karya sastra. Sedangkan tema minor adalah tema yang dilihat dari sudut pandang yang lain. Sehingga di dalam tema mayor terdapat tema minor.      
Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Dibuktikan pada kutipan
 “Tidak, kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan diri mu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kaum mu sendiri, melupakan kehidupan anak istimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahan mu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.”
Dengan demikian, jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya.
  1. Latar
Latar disebut juga landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan.Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar pada cerpen  ini ada dua macam, yaitu: latar tempat dan latar waktu.
  • Latar Tempat
Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya. Dobuktikan pada bagian:
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.
  • Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut :
“Pada suatu waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “..di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang ….”
Jika tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian yang bakal roboh ………
Sekali hari aku datang pula mengupah kepada kakek
“Sedari mudaku aku di sini, bukan ?….”
  1. Alur (plot)
Alur menurut Suminto A. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur.  Adapun struktur alur adalah bagian awal, bagian tengah, dan bagian  akhir.
Secara umum alur dibedakan menjadi dua yaitu: alaur tradisional dan alur konvensional. Alur tradisional adalah alur yang menderetkan rangkaian peristiwa mulai dari pengenalan dan mulai bergeraknya peristiwa menuju puncak, dan akhirnya penyelesaian. Alur konvensional adalah alur yang tidak terikat pada system penderetan peristiwa,urutan peristiwa dapat dimulai dari klimaks,disambung dengan peristiwa lain atau susunan yang lain yang terdapat pada alur tradisional.
Alur yang dipakai dalam cerpen Robohnya Surau Kami yaitu alur maju dan mundur, Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya, yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan, dan juga menceritakan tentang sebab meninggalkan seorang kakek penjaga surau dan kemudian menceritakan kembali lanjutan kisah tersebut.
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis.… Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua…. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua…. Orang-orang memanggilnya kakek… Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal…. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahny. Dan besoknya, ketika Aku mau turun rumah pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. “Siapa yang meninggal?” Tanyaku kaget.
“Kakek.”
“Kakek?”
  1. Penokohan
Tokoh merupakan komponen terpenting dalam sebuah cerita. Tokoh merupakan pribadi yang selalu hadir di dalam pikiran dan di hati kita sebagai pembaca dari awal sampai akhir. Meskipun tokoh itu fiktif, kita sulit melupakannya. Karakter tokoh adalah orang yang melengkapi dengan kualitas moral dan watak yang diungkapkan oleh apa yang dikatakannya, dialog dan apa yang dilakukannya tindakan. Perwatakan adalah temperemen tokoh-tokoh yang hadir di dalam cerita. Pola-pola tindakan tokoh dipengaruhi oleh tempramen ini. Watak atau temperamen ini mungkin berubah,mungkin pula tetap sesuai dengan bentuk perjuangan yang dilakukannya. Jadi penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya.
  1. Tokoh Aku
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang lain. Dibuktikan pada bagian:
Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?”
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi kakek : “Bagaimana katanya, kek ?”
“Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
  1. Ajo Sidi
Tokoh ini sangat istimewa. Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat menentukan keberlangsungan cerita ini. Secara jelas tokoh ini disebut sebagai si tukang bual. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku. Menurut si tokoh Aku, Ajo Sidi disebutkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun yang mendengarnya pasti terpikat. Selain itu bualannya selalu mengena. Dibuktikan pada bagian:
….Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.,,,
  1. Si Kakek
Tokoh ini merupakan tokoh sentral. Tokoh ini digambarkan sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang, pendek akal dan pikirannya, serta terlalu mementingkan diri sendiri dan lemah imannya.
Penggambaran watak seperti ini karena tokoh kakek mudah termakan cerita Ajo Sidi. Padahal yang namanya cerita tidak perlu ditanggapi serius tetapi bagi si kakek hal itu seperti menelanjangi kehidupannya. Seandainya si kakek panjang akal dan pikirannya serta kuat imannya tidak mungkin ia mudah termakan cerita Ajo Sidi. Dia bisa segera bertobat dan bersyukur kepada Tuhan sehingga dia bisa membenahi hidup dan kehidupannya sesuai dengan perintah tuhannya. Tetapi sayang, dia segera mengambil jalan pintas malah masuk ke pintu dosa yang lebih besar.
Gambaran untuk tokoh si Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri melalui ucapanya sendiri, seperti berikut:
“ Sedari mudaku aku di sini, bukan ? tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupku
  1. Haji Saleh
Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi. Secara jelas terlihat watak tokoh ini digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri.


  1. Titik Pengisahan/Sudut Pandang
Titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut. Maksudnya apakah, pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita itu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.
Di dalam cerpen Robohnya Surau Kami pengarang memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. Buktinya:
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar….
Sekali hari Aku datang pula mengupah pada kakek. Biasanya kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang….
Akan tetapi, ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh Aku, dan cerita ini diperolehnya dari Ajo Sidi, maka pengarang sudah memposisikan dirinya sebagai tokoh bawahan. Artinya, pengarang tetap melibatkan diri dalam cerita akan tetapi yang sebenarnya ia sedang mengangkat tokoh utama atau berusaha ingin menceritakan tokoh utamanya. Di sini pengarang tetap mengunakan kata “Aku”. Walaupun begitu kata “Aku” ini merupakan kata ganti orang pertama pasif.
“Engkau ?”
“Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.”
lalu, setelah si Kakek menceritakan tentang Haji Saleh –tokoh dongengan Ajo Sidi- ,pengarang kembali ke posisi sebagai tokoh Aku seperti pada bagian awal cerita.
  1. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan ceritanya melalui bahasa yang digunakan. Setiap pengarang memiliki gaya masing-masing. Pada cerpen ini pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), seperti garin, Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka, haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah.
Majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang, yakni tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat, atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel karena majas ini berisi ajaran agama, moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini.
Selain majas alegori atau parabol, pengarang pun menggunakan majas Sinisme seperti yang diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi”.
  1. Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita. Jadi amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra dan sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengararang kepada pembaca atau pendengar.
Amanat yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar  yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis adalah:
a)      Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain. Amanat ini dibuktikan pada kutipan:
“Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tetapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadah bertawakkal kepada Tuhan .…”
b)      Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. Dibuktikan pada:
“Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali ke Mekkah….
c)      Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki, dibuktikan pada kutipan:
“…, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. …
d)     Jangan mementingkan diri sendiri. Dibuktikan pada bagian:
”…. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya.




BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan

Dari judul cerpen yakni Robohnya Surau Kami. Suaru di sini merupakan simbol kesucian, keyakinan. Jadi, melalui simbol ini sebenarnya pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. Sebab, cukup banyak tokoh-tokoh kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan, jabatan, dan pangkat. Mereka tenggelam dalam Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya. Bahkan ada pula yang keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. Mereka ini tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan kelompoknya.
Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut.
Unsur-unsur intrinsik yang ada pada cerpen ini yaitu: tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya. Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. Tokoh dalam cerpen ini ada empat orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh. Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. Ajo Sidi adalah orang yang suka membual. Kakek adalah orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain. Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri.
Titik pengisahan/ sudut pengarang cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku. Gaya bahasa yang digunakan pengarang majas alegori, dan sinisme. Amanat yang ingin disampaikan pengarang pada cerpen ini adalah: jangan cepat marah kalau diejek orang, jangan cepat bangga kalau berbuat baik, jangan terpesona oleh gelar dan nama besar,  jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan jangan egois.

B.     Saran
1.      Bagi mahasiswa pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia di harapkan bias menigkatkan pemahaman tentang apresiasi sastra,
2.      Dalam mengapresiasi karya sastra kita tidak hanya memandangnya sebagai bahan bacaan yang menarik namun kita harus bisa menyerap makna yang di sampaikan oleh pengarang.
3.       Sebagai calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia kita harus memahami cerpen-cerpen yang cukup fenomenal.
4.      Sebagai calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia kita harus bisa memahami unsur instrinsik dan ekstinsik.




DAFTAR PUSTAKA

Aminnudin, 2010, Pengantar Apresiasi karya Sastra, Bandung: Sinar Baru Algesindo
Djoko pradopo, Rakhmat, 2007, Prinsip-prinsip karya sastra, Yogyakrta: Gadjah mada University press
Effendi, Anwar, Memen Durachan, Mien Rumni, 1997, Materi Pokok Pengajaran Apresiasi Sastra, Jakarta: Universitas terbuka
Navis, A.A, tanapa tahun, Robohya Surau kami, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sugono, Dendy, 2003, Buku Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat Bahasa

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "ANALISIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA AA. NAVIS"

  1. Assalamualaikum kak
    Penjelasan nya sudah sangat bagus sekali tetapi menurut saya kak dr segi penutup nya. Alangkah lebih baik simpulan bukan kesimpulan kak karena kalau kesimpulan masih akan menuju pada simpulan. Sedangkan simpulan sudah menunjukkan pada simpulannya sendiri. Trima kasih ya kak

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum kak
    Penjelasan nya sudah sangat bagus sekali tetapi menurut saya kak dr segi penutup nya. Alangkah lebih baik simpulan bukan kesimpulan kak karena kalau kesimpulan masih akan menuju pada simpulan. Sedangkan simpulan sudah menunjukkan pada simpulannya sendiri. Trima kasih ya kak

    ReplyDelete