ANALISIS CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA AA. NAVIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang masalah
Dalam
kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah karya sastra. Dengan
membaca karya sastra kita akan memperoleh sesuatu yang dapat memperkaya wawasan
dan atau meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada
sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Karya
sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai atau value. Nilai-nilai itu
dikemas dalam wujud stuktur karya sastra yang secara implisit terdapat dalam
alur, latar, tokoh, tema dan amanat. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya
sastra antara lain :
1. Nilai hedonik ( Hedonic value)
2. Nilai artistik ( artistic value)
3. Nilai kultural (cultural value)
4. Nilai etis, moral, agama ( ethical,
moral, religious value)
5. Nilai praktis (practical value)
Begitu
pula dalam sastra prosa. Novel dan cerpen yang baik mengandung nilai-nilai
kehidupan. Nilai itu dapat kita pahami melalui kegiatan mengapresiasi karya
sastra novel dan cerpen. Di dalam cerpen terdapat dalam alur, latar, tokoh,
tema dan amanat atau yang sering disebut unsur instrinsik.
Dari
permasalahan di atas, penulis mencoba mengangkat sebuah cerpen yang cukup
fenomenal berjudul “Robohnya Surau Kami” karya A.A Nafis. Dengan maksud supaya
kita dapat mengapresiasi cerpen tersebut melalui analisis unsur yang terkandung
di dalamnya.
1.2
Pembatasan Masalah
Pembatasan
masalah dimaksudkan agar masalah menjadi lebih jelas dan tidak melebar sehingga
membantu memudahkan dalam pemecahan. Adapun masalah yang akan di analisis
adalah :
1. Apakah pengertian apresiasi karya sastra
itu?
2. Apakah pengertian cerpen itu?
3. Apa yang dimaksud dengan unsur
instrinsik dan bagaimana unsur instrinsik yang terkandung dalam cerpen
“Robohnya Surau Kami”?
1.3
Tujuan
Tujuan
penulis menyusun makalah ini adalah :
1. Meningkatkan apresiasi karya sastra terutama
cerpen
2. Memahami pengertian apresiasi karya
sastra
3. Memahami pengertian cerpen
4. Memahami unsur instrinsik yang terkandug
dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Apresiasi karya sastra
Kata apresiasi berawal dari bahasa
latin apreciatio yang artinya
“mengindahkan” atau “menghargai”. Menurut Gove apresiasi bermkna pengenalan
melalui perasaan batin dan pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai
keindahan yang diungkapkan pengarang.
S.Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra
adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga
menimbulkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan
perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Di dalam karya sastra terdapat unsur
yang kompleks antara lain :
1. Unsur keindahan
2. Unsure kontemplatif yang berhubungan
dengan nilai tentang keagamaan, filsafat serta berbagai macam kompleksitas
permasalahan kehidupan.
3. Media pemaparan
4. Unsur-unsur instrinsik
Sehubungan
dengan kandungan empat aspek diatas, maka seorang apresiator
harus memiliki bekal awal dalam mengapresiasi karya sastra, diantaranya
:
1. Kepekaan emosi
2. Pemilikan pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah kehidupan
3. Pemahaman terhadap aspek kebahasaan
4. Pemahaman terhadap unsur instrinsik
2.2
Pengertian cerpen
Cerpen
merupakan fiksi yang selesai dibaca sekali duduk. Dalam artian sebuah kesan di
dalam cerpen dapat ditemukan dalam sekali baca. ( Alam dan Mien Rumini, 1996: 1
) mengatakan cerpen adalah cerita yang pada hakikatnya merupakan salah satu
wujud pernyataan seni yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi.
Pernyataan ini seirama dengan ( Esten, 1978: 12 ) cerpen merupakan pengungkapan
suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Maksudnya, cerita dalam
cerpen hanyalah sebagian kecil penggalan hidup manusia. Berbeda dengan roman
yang menceritakan dari awal kehidupan hingga akhir hayat tokoh-tokohnya.
2.3 Unsur instrinsik dalam cerpen
“Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis
- Tema
Tema
adalah pokok pikiran yang dicetuskan pengarang yang menjadi jiwa dan dasar
cerita. Tema dibedakan menjadi dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor
adalah tema yang merupakan pusat pikiran sebuah cerita atau karya sastra.
Sedangkan tema minor adalah tema yang dilihat dari sudut pandang yang lain.
Sehingga di dalam tema mayor terdapat tema minor.
Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami terletak pada
persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Dibuktikan pada
kutipan
“Tidak, kesalahan engkau, karena engkau
terlalu mementingkan diri mu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau
taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kaum mu sendiri, melupakan kehidupan
anak istimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah
kesalahan mu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal engkau di dunia berkaum,
bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.”
Dengan
demikian, jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema cerpen
ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya.
- Latar
Latar disebut juga landas tumpu, menyaran pada pengertian
tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang
diceritakan.Unsur latar
dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu latar tempat, latar waktu, dan
latar sosial. Latar pada cerpen ini ada
dua macam, yaitu: latar tempat dan latar waktu.
- Latar Tempat
Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah,
bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada
dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti kota, dekat pasar,
di surau, dan sebagainya. Dobuktikan pada bagian:
Kalau
beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis,
Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke
barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan
kampungku. Pada simpang kecil kekanan, simpang yang kelima, membeloklah ke
jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau
tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah
pancuran mandi.
- Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan
latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau
contoh yang lainnya seperti berikut :
“Pada suatu
waktu,” kata Ajo Sidi memulai, “..di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang
yang sudah berpulang ….”
Jika tuan
datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kebencian
yang bakal roboh ………
Sekali hari
aku datang pula mengupah kepada kakek
“Sedari
mudaku aku di sini, bukan ?….”
- Alur (plot)
Alur menurut Suminto A. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai
peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian
tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki
struktur. Adapun struktur alur adalah
bagian awal, bagian tengah, dan bagian
akhir.
Secara umum alur dibedakan menjadi dua yaitu: alaur
tradisional dan alur konvensional. Alur tradisional adalah alur yang
menderetkan rangkaian peristiwa mulai dari pengenalan dan mulai bergeraknya
peristiwa menuju puncak, dan akhirnya penyelesaian. Alur konvensional adalah
alur yang tidak terikat pada system penderetan peristiwa,urutan peristiwa dapat
dimulai dari klimaks,disambung dengan peristiwa lain atau susunan yang lain
yang terdapat pada alur tradisional.
Alur yang dipakai
dalam cerpen Robohnya Surau Kami yaitu alur maju dan mundur, Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada
kisah sebelumnya, yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan, dan juga menceritakan tentang sebab
meninggalkan seorang kakek penjaga surau dan kemudian menceritakan kembali
lanjutan kisah tersebut.
Kalau
beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis.…
Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua…. Dan di
pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua…. Orang-orang memanggilnya
kakek… Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal…. Dan
biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal
kebenarannya. Beginilah kisahny. Dan besoknya, ketika Aku mau turun rumah
pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. “Siapa yang meninggal?”
Tanyaku kaget.
“Kakek.”
“Kakek?”
- Penokohan
Tokoh merupakan komponen terpenting dalam sebuah cerita.
Tokoh merupakan pribadi yang selalu hadir di dalam pikiran dan di hati kita
sebagai pembaca dari awal sampai akhir. Meskipun tokoh itu fiktif, kita sulit
melupakannya. Karakter tokoh adalah orang yang melengkapi dengan kualitas moral
dan watak yang diungkapkan oleh apa yang dikatakannya, dialog dan apa yang dilakukannya
tindakan. Perwatakan adalah temperemen tokoh-tokoh yang hadir di dalam cerita.
Pola-pola tindakan tokoh dipengaruhi oleh tempramen ini. Watak atau temperamen
ini mungkin berubah,mungkin pula tetap sesuai dengan bentuk perjuangan yang
dilakukannya. Jadi penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya.
- Tokoh Aku
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa
mendengar kisah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya
dengan pisau. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu
perkara orang lain. Dibuktikan pada bagian:
Tiba-tiba
aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo
Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan
kakek ? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya pada kakek lagi: “Apa ceritanya, kek ?”
Ingin tahuku
dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi
kakek : “Bagaimana katanya, kek ?”
“Astaga. Ajo
Sidi punya gara-gara,” kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang
tercengang-cengang. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama
istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
- Ajo Sidi
Tokoh ini sangat istimewa. Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat
menentukan keberlangsungan cerita ini. Secara jelas tokoh ini disebut sebagai
si tukang bual. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku. Menurut si tokoh
Aku, Ajo Sidi disebutkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun
yang mendengarnya pasti terpikat. Selain itu bualannya selalu mengena.
Dibuktikan pada bagian:
….Maka aku
ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin
ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat
orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.,,,
- Si Kakek
Tokoh ini merupakan tokoh sentral. Tokoh ini digambarkan sebagai orang yang
mudah dipengaruhi dan gampang mempercayai omongan orang, pendek akal dan
pikirannya, serta terlalu mementingkan diri sendiri dan lemah imannya.
Penggambaran watak seperti ini karena tokoh kakek mudah termakan cerita Ajo
Sidi. Padahal yang namanya cerita tidak perlu ditanggapi serius tetapi bagi si
kakek hal itu seperti menelanjangi kehidupannya. Seandainya si kakek panjang
akal dan pikirannya serta kuat imannya tidak mungkin ia mudah termakan cerita
Ajo Sidi. Dia bisa segera bertobat dan bersyukur kepada Tuhan sehingga dia bisa
membenahi hidup dan kehidupannya sesuai dengan perintah tuhannya. Tetapi
sayang, dia segera mengambil jalan pintas malah masuk ke pintu dosa yang lebih
besar.
Gambaran untuk tokoh si Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri
melalui ucapanya sendiri, seperti berikut:
“ Sedari
mudaku aku di sini, bukan ? tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga
seperti orang-orang lain, tahu? Tak terpikirkan hidupku…
- Haji Saleh
Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi. Secara jelas terlihat watak tokoh ini
digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri.
- Titik Pengisahan/Sudut Pandang
Titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut.
Maksudnya apakah, pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita itu atau hanya
sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.
Di dalam cerpen Robohnya Surau Kami pengarang memposisikan dirinya dalam
cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung
pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita.
Buktinya:
Kalau
beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menumpang bis,
Tuan akan berhenti di dekat pasar….
Sekali hari
Aku datang pula mengupah pada kakek. Biasanya kakek gembira menerimaku, karena
aku suka memberinya uang….
Akan tetapi, ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh
Aku, dan cerita ini diperolehnya dari Ajo Sidi, maka pengarang sudah
memposisikan dirinya sebagai tokoh bawahan. Artinya, pengarang tetap melibatkan
diri dalam cerita akan tetapi yang sebenarnya ia sedang mengangkat tokoh utama
atau berusaha ingin menceritakan tokoh utamanya. Di sini pengarang tetap
mengunakan kata “Aku”. Walaupun begitu kata “Aku” ini merupakan kata ganti
orang pertama pasif.
“Engkau ?”
“Aku Saleh.
Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.”
lalu, setelah si Kakek menceritakan tentang Haji Saleh
–tokoh dongengan Ajo Sidi- ,pengarang kembali ke posisi sebagai tokoh Aku
seperti pada bagian awal cerita.
- Gaya Bahasa
Gaya
bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan ceritanya melalui bahasa yang
digunakan. Setiap pengarang memiliki gaya masing-masing. Pada cerpen
ini pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan
(Islam), seperti garin, Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah,
Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, dosa dan pahala, Surga, Tuhan, beribadat
menyembah-Mu, berdoa, menginsyafkan umat-Mu, hamba-Mu, kitab-Mu, Malaikat, neraka,
haji, Syekh, dan Surau serta fitrah Id, juga Sedekah.
Majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karena di
dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang, yakni tokoh Haji Saleh
dan kehidupan di akhirat, atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel karena
majas ini berisi ajaran agama, moral atau suatu kebenaran umum dengan
mengunakan ibarat. Majas ini sangat dominan dalam cerpen ini.
Selain majas alegori atau parabol, pengarang pun menggunakan majas Sinisme
seperti yang diucapkan tokoh aku: ”…Dan yang terutama ialah sifat masa
bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi”.
- Amanat
Amanat
adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui
karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu
dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau
peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula
disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran,
peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan
utama cerita. Jadi amanat adalah gagasan yang mendasari
karya sastra dan sekaligus pesan yang ingin disampaikan pengararang kepada
pembaca atau pendengar.
Amanat yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau
Kami karya A.A. Navis adalah:
a) Jangan cepat
marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan
kita yang kurang layak di hadapan orang lain. Amanat ini dibuktikan pada
kutipan:
“Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tetapi aku sudah
tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku
kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku
berbuat baik, beribadah bertawakkal kepada Tuhan .…”
b) Jangan cepat
bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bisa saja baik di
hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. Dibuktikan pada:
“Alangkah tercengangnya
Haji Saleh, karena di Neraka itu banyak teman-temannya didunia terpanggang
hangus, merintih kesakitan. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan
dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kurang
ibadahnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 kali
ke Mekkah….
c) Jangan
menyia-nyiakan apa yang kamu miliki, dibuktikan pada kutipan:
“…, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak
cucumu teraniaya semua, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain
mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara
kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya
raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak
mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. …
d) Jangan mementingkan diri sendiri.
Dibuktikan pada bagian:
”…. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu
mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat
bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan
kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Dari judul cerpen yakni Robohnya
Surau Kami. Suaru di sini merupakan simbol kesucian, keyakinan. Jadi, melalui
simbol ini sebenarnya pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa
kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh.
Sebab, cukup banyak tokoh-tokoh kita dari berbagai kalangan tidak lagi suci
hatinya. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan, jabatan, dan pangkat.
Mereka tenggelam dalam Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya.
Bahkan ada pula yang keyakinannya terhadap Tuhan dan agamanya terlibat
luntur-pudar. Mereka ini tidak hanya tenggelam dalam KKN dan egoisme tetapi
juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta dibakar emosi dan dendam
demi keakuan dirinya dan kelompoknya.
Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis ini memang sebuah sastra
(cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur
intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran. Adapun hasil
analisisnya sebagai berikut.
Unsur-unsur intrinsik yang ada pada cerpen ini yaitu: tema cerpen ini
adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya. Latar yang
ada dalam cerpen ini adalah latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Alur
cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah
berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Sedangkan strukturnya berupa
bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir
bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. Tokoh dalam cerpen ini ada empat
orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh. Tokoh Aku berwatak
selalu ingin tahu urusan orang lain. Ajo Sidi adalah orang yang suka membual.
Kakek adalah orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai
orang lain. Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri.
Titik pengisahan/ sudut pengarang cerpen ini yaitu pengarang berperan
sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di
dalam cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si
kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku. Gaya bahasa yang
digunakan pengarang majas alegori, dan sinisme. Amanat yang ingin disampaikan
pengarang pada cerpen ini adalah: jangan cepat marah kalau diejek orang,
jangan cepat bangga kalau berbuat baik, jangan terpesona oleh gelar dan nama
besar, jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan jangan egois.
B.
Saran
1.
Bagi mahasiswa pendidikan bahasa dan
Sastra Indonesia di harapkan bias menigkatkan pemahaman tentang apresiasi
sastra,
2.
Dalam mengapresiasi karya sastra
kita tidak hanya memandangnya sebagai bahan bacaan yang menarik namun kita
harus bisa menyerap makna yang di sampaikan oleh pengarang.
3.
Sebagai calon guru Bahasa dan Sastra
Indonesia kita harus memahami cerpen-cerpen yang cukup fenomenal.
4.
Sebagai calon guru Bahasa dan Sastra
Indonesia kita harus bisa memahami unsur instrinsik dan ekstinsik.
DAFTAR
PUSTAKA
Aminnudin, 2010, Pengantar Apresiasi
karya Sastra, Bandung: Sinar Baru Algesindo
Djoko pradopo, Rakhmat, 2007,
Prinsip-prinsip karya sastra, Yogyakrta: Gadjah mada University press
Effendi, Anwar, Memen Durachan, Mien
Rumni, 1997, Materi Pokok Pengajaran Apresiasi Sastra, Jakarta: Universitas
terbuka
Navis, A.A, tanapa tahun, Robohya Surau
kami, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Sugono, Dendy, 2003, Buku Praktis Bahasa
Indonesia, Jakarta : Pusat Bahasa
Assalamualaikum kak
ReplyDeletePenjelasan nya sudah sangat bagus sekali tetapi menurut saya kak dr segi penutup nya. Alangkah lebih baik simpulan bukan kesimpulan kak karena kalau kesimpulan masih akan menuju pada simpulan. Sedangkan simpulan sudah menunjukkan pada simpulannya sendiri. Trima kasih ya kak
Assalamualaikum kak
ReplyDeletePenjelasan nya sudah sangat bagus sekali tetapi menurut saya kak dr segi penutup nya. Alangkah lebih baik simpulan bukan kesimpulan kak karena kalau kesimpulan masih akan menuju pada simpulan. Sedangkan simpulan sudah menunjukkan pada simpulannya sendiri. Trima kasih ya kak